BAB I Manusia bertopeng
Di siang yang terik di hutan Guama terlihat lima ekor kuda mengiringi sebuah kereta mewah, penunggang kuda dibagian depan adalah seorang yang berbadan besar dengan muka mempunyai cabang lebat terlihat sebuah tombak melintang di punggungnya, orang ini bernama Jorang wukutenu. Dia adalah salah seorang guru silat dari kerajaan Gigantara. Di sebelah Jorang wukutenu juga adalah salah seorang guru silat kerajaan yang berpenampilan layaknya ulama bersorban dia adalah Kyai brogo.
Mereka berdua bersama 3 orang prajurit khusus pengawal istana sedang mengawal pangeran naufal dan putri savira untuk berburu di hutan Guama seperti biasanya.
Berburu rusa adalah kegemaran raja Ranggapati yang rupanya menurun pada sang putri Savira yang tahun ini sudah menginjak usia yang ke 17. Sedangkan sang pangeran baru berusia 7 tahun, walaupun tidak terlalu menyukai berburu rusa tetapi ia tidak pernah telat untuk menemani sang kakak untuk berburu. Ketika sang kakak kegirangan karena berhasil memanah 3 ekor rusa, sang adik hanya tersenyum seperti layaknya orang tua yang geli melihat anaknya bisa merangkak pertama kali. Sang putri memang seorang yang bertipe periang dan mudah bergaul dengan siapapun termasuk para bawahannya, sedangkan naufal adalah seorang yang tidak terlalu banyak bicara pada semua orang, orang yang paling sering diajaknya berbicara adalah sang kakak dan ibunya ratu Zaskia.
Semua berjalan seperti biasanya sampai ketika mereka sedang beristirahat sebelum pulang kembali ke istana, mulailah tampak sesuatu yang tidak biasa. Ada 2 orang berpakaian serba hitam dan bertopeng yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Mereka berdua muncul dengan pedang terhunus.
Sang guru silat Jorang wukutenu membentak " Hei siapa kalian dan mau apa kalian menghunus pedang di depan Jorang wukutenu?"
"Apakah kalian berdua sudah punya nyawa seribu?" bentaknya dengan keras.
Sedangkan Kyai brogo berkata perlahan kepada Jorang wukutenu, " Hati-hati ki, kedatangan mereka begitu tiba-tiba dan tidak dapat kurasakan, tentu kepandaian mereka tidak bisa diremehkan." Selanjutnya ia berkata kepada para pengawal untuk menjaga pangeran dan putri.
Ki jorang yang memang berwatak sedikit berangasan tidak menggubris omongan Ki brogo lalu melompat dengan tombak diacungkan kepada dua orang misterius tersebut. "Apa kalian berdua orang tuli sehingga tidak mendengar pertanyaanku?" Bentaknya lagi.
"Kami tidak tuli, mungkin sebentar lagi telingamu yang tidak bisa mendengar lagi karena akan ku tebas dengan pedang ini" Jawab salah satu orang bertopeng dengan gaya yang santai.
"Manusia laknat, punya kemampuan apa sehingga bacot loe bisa segitu besarnya?" bentak ki jorang.
"Kalau soal kemampuan bisa diliat nanti ketika semua rombongan ini akan bermandikan darah oleh pedangku ini. Tenang saja kami akan memuaskan keinginanmu untuk menyaksikan semua kemampuan kami, sampai akhirnya engkaulah yang akan menjadi tumbal yang terakhir dari pedangku ini". Ucap salah satu orang bertopeng yang rupanya sebagai juru bicara dan juga pimpinan diantara mereka berdua.
Pada saat ki jorang sedang berdiskusi 'akrab' dengan dua orang misterius itu, sang putri mendekati Kyai brogo. "Siapa mereka berdua paman? Sebelumnya hutan ini kan aman-aman saja, dan juga posisi hutan ini tidak terlalu jauh dari area patroli pengawal kerajaan kita" Ucap sang putri kepada Ki brogo.
"Entahlah putri, tapi sepertinya mereka cuma perampok biasa yang nyasar kemari. Ki Jorang pasti mampu membereskan mereka. Putri disini saja bersama pangeran dan para pengawal. Paman akan membantu Ki jorang." Ucap kyai brogo meyakinkan sambil mencoba menyingkirkan kekhawatiran di hatinya sendiri.
Sedangkan di depan sana rupanya kesabaran Ki jorang sudah habis, terlihat ia sudah menghantam dengan jurus tombak menghalau domba. Jurus tombak yang sebenarnya tidak terlalu menakutkan tetapi menjadi serangan yang cukup berbahaya karena Ki jorang menyalurkan lima bagian tenaganya pada serangannya yang pertama ini.
Tetapi ternyata serangannya itu hanya dianggap angin lalu oleh kedua orang bertopeng itu, ketika serangan tombak sepertinya akan segera sampai ke tubuh orang bertopeng yang tadi berbicara tiba-tiba ia bergeser sedikit sambil melakukan tendangan ke arah bokong ki jorang, yang mengakibatkan ki jorang terpental kebelakang sejauh 3 langkah.
"bajingan keparat, kubunuh kau." Teriak ki Jorang setelah bangun lalu menusuk dengan jurus Petaka halilintar yang merupakan salah satu jurus kebanggaan Ki Jorang.
Melihat Ki jorang sudah merangsak dengan ganas salah satu manusia bertopeng tadi, kyai Brogo lalu menghampiri manusia bertopeng yang satunya.
Ia berkata "Apa maksud kalian yang sepertinya sengaja mencari perkara dengan rombongan dari Kerajaan Gigantara? Apakah kalian berharap merampok kami? Kalau kamu merasa jantan silahkan buka topengmu"
Terdengar tawa yang sangat sinis dari manusia bertopeng tadi, "Aku tidak ingin harta, yang ku inginkan adalah nyawa kalian semua" Ucapnya dingin.
Kyai Brojo sedikit heran dengan kejadian ini, sepertinya mereka memang tidak menghendaki harta. Tetapi seingat dia pihak kerajaan beberapa waktu ini aman tentram, dan selama ini tidak mempunyai musuh dari dalam ataupun luar kerajaan. Berita di dunia persilatan juga tidak terlalu ada yang mengkhawatirkan, walaupun gerakan golongan hitam tetap ada tetapi masih bisa diredam oleh para pihak pendekar dari golongan lurus.
Kejadian yang tiba-tiba ini sangat mengherankan, apalagi dilihatnya dari sikap santai, kehadiran mereka yang sangat tiba-tiba dan juga Ki jorang yang mampu dibuat jatuh bangun oleh manusia bertopeng yang satunya. Padahal kepandaian Ki jorang sudah cukup tinggi, di kerajaan Gigantara sendiri mungkin hanya 3 orang yang mampu mengimbangi kemampuannya. Sedangkan kemampuan dirinya sendiri tidak berbeda jauh dengan Ki jorang. Semakin membuat Kyai brogo tambah khawatir akan keselamatan junjungan yang sedang dikawalnya. Apalagi ketika dilihat kembali pada pertarungan Ki jorang yang sepertinya sudah berakhir karena saat ini Ki jorang terduduk kaku di sana, sepertinya dia sudah ditotok. Sepertinya pertarungan tadi belum lebih dari 15 jurus ternyata Ki jorang sudah berhasil ditotok oleh lawannya. Sungguh hal itu membuat kyai brogo semakin was-was.
Pada awalnya kyai Brogo berinisiatif untuk mengulur waktu, sampai ada regu pengawal yang berpatroli ke daerah hutan ini. Tetapi ternyata hanya beberapa jurus saja Ki Jorang sudah keok. Terpaksa ia lalu bersiap menyerang lawannya yang satu ini, daripada dikeroyok dua orang lebih baik coba-coba dulu dengan lawan yang satu ini, pikirnya. Tanpa memberi peringatan lagi kyai brogo langsung mengeluarkan pukulan samber nyawa yang merupakan sebuah jurusan pukulan tinju yang saling susul menyusul dan juga salah satu andalan kyai brogo.
Tetapi ternyata dengan gerakan yang sulit diikuti oleh mata kyai brogo, lawannya tiba-tiba menghilang entah kemana. Selanjutnya terdengar teguran dari belakangnya, "Sudah tua tetapi masih juga belajar memukul angin."
Ternyata manusia bertopeng tersebut sudah ada dibelakangnya. Langsung saja kyai brogo menghantam kembali dengan pukulan samber nyawa yang disusuli dengan pukulan guntur membelah langit yang merupakan jurus yang selama ini sangat jarang ia keluarkan sejak ia turun gunung dari padepokan Panca Langit lima belas tahun yang lalu.
Tetapi ternyata tetap tidak menghasilkan apapun, lagi-lagi si lawan menghilang dan kali ini berada kembali di belakang kyai brogo bahkan berada cuma dua langkah di belakangnya.
Kyai brogo terhenyak, dia mempunyai gelar kyai bukan saja karena dia seorang yang menyebarkan agama Islam, tetapi juga secara keilmusilatan pada 18 tahun yang lalu dia adalah lulusan dari padepokan Panca Langit dengan predikat Cumlaude. Dia adalah lulusan terbaik pada angkatannya, tetapi ternyata bisa dipermainkan oleh seorang misterius yang kalau dilihat dari suaranya adalah seseorang yang masih sangat muda, paling tidak lebih muda daripada dirinya karena pada saat ini walaupun ia belum tergolong ABG atau Angkatan Babe Gue, tapi paling tidak dia sudah masuk ke dalam daftar AOG atau Angkatan Oom Gue karena sudah memasuki usia yang ke 42 tahun.
Semenjak 18 tahun yang lalu merantau di dunia persilatan hingga saat ini belum pernah dia melihat ilmu meringankan tubuh sehebat ini, bahkan bila mengingat kemampuan sang gurunya Kyai Moksa Abimanyu sepertinya belum mampu menghindar kebelakang tanpa dia tahu bagaimana cara musuh bergerak. Sepertinya dia mencari guru yang kurang tepat atau manusia bertopeng ini yang mempunyai guru yang terlalu hebat. Entahlah, yang jelas ia semakin bingung. Bingung dan khawatir akan nasib pangeran dan putri yang ada di sana.
"Hei kamu, kalau berani jangan maen menghilang begitu. Coba kamu sambut pukulan Guntur ku." Teriak Kyai brogo sedikit kesal.
"Baiklah kalau kamu sudah merasa cukup lama hidup di dunia ini, aku kabulkan kehendakmu. Silahkan keluarkan pukulan Kentut mu itu." Jawab orang bertopeng yang jelas-jelas bikin kyai brogo semakin marah.
"Kurang ajar, rasakan pukulanku." Seru kyai brogo sambil mengeluarkan pukulan gunturnya dengan sepenuh tenaga. Pukulan guntur membelah langit adalah sebuah jurus yang sifatnya meledakkan tenaga dalam ketika berbenturan dengan apapun. Apapun benda yang terkena pukulan ini akan hancur, resiko paling ringan terkena pukulan ini adalah kulit melepuh selama kulit itu tidak diobati. Tentu saja kyai Brogo sangat senang ketika musuhnya berani menerima serangannya tanpa mengelak lagi, sehingga dia bisa menunjukkan kemampuannya lewat pukulan gunturnya.
Tetapi kali ini kyai Brogo salah perhitungan, dia tidak tahu kalau manusia bertopeng tersebut sudah sangat jelas mengenai kemampuan dirinya. Sangat mengerti efek dan kehebatan jurus Guntur membelah langit miliknya. Selain itu juga kyai Brogo tidak tahu bahwa manusia bertopeng tersebut memiliki ilmu Hawa Siluman Penyedot Raga. Ilmu yang sangat sulit untuk dipelajari dan sudah ratusan tahun tidak terdengar ada orang yang mampu menggunakan ilmu ini.
Manusia bertopeng tersebut menerima pukulan dengan dadanya, ketika kyai brogo menyangka dada orang tersebut akan hancur justru yang terjadi sungguh membuatnya kaget. Ketika tangannya sudah berada sangat dekat dengan dada manusia bertopeng tersebut terasa seperti ada sebuah tenaga yang justru menyedot tangannya ke arah dada lawan. Sedangkan efek dari pukulan gunturnya terhadap tubuh lawan tidak ada sama sekali, sedangkan tenaga dalamnya mengalir keluar tanpa bisa dikendalikan. Pada saat itulah dia sadar bahwa orang ini memiliki ilmu Hawa Siluman Penyedot Raga. Kecemasan terlihat diraut wajahnya, dengan mengerahkan sisa tenaga yang masih ada pada dirinya ia pun berteriak "Pengawal bawa pangeran dan putri pergi dari sini, cepat!"
Tiga orang pengawal tersebut yang sejak tadi menonton pertempuran itu tentu saja sudah sangat mengerti keadaan di sana. Tanpa menunggu tempo lagi salah satu dari mereka menggendong sang pangeran sedangkan sang putri naik kuda sendirian dan langsung mereka berusaha kabur.
Tetapi tentu saja hal ini tidak dibiarkan oleh manusia bertopeng yang sedang menganggur. Dia menghantam dengan pukulan jarak jauh ke arah pengawal yang menggendong pangeran kecil, hantaman itu terkena telak sehingga pengawal tersebut terjatuh dari kuda bersama pangeran kecil tersebut. Beruntung tenaga dalam pengawal tersebut tergolong kelas satu, walaupun harus muntah darah sedikit dia masih mampu bangun dan melarikan diri menggendong sang pangeran yang terlempar didekatnya. Baginya keselamatan pangeran dan putri lebih penting, dengan menahan sakit di badan dia langsung saja melarikan diri.
Sedangkan sang putri sepertinya akan selamat, seandainya komplotan itu hanya dua orang saja, tetapi sayangnya ternyata begitu sang putri telah melarikan kudanya ada sosok manusia bertopeng yang lain yang langsung berkelebat mengikuti arah kepergiannya.
Sepertinya kejadian ini sudah benar-benar direncanakan mereka secara matang, walaupun putri savira sudah membedal duluan kudanya tetapi dari kemampuan dua manusia bertopeng yang lain sepertinya pelarian putri savira tidak akan berhasil. Dan memang tidak jauh dari ujung jalan keluar hutan itu ternyata sang putri sudah dihadang oleh manusia bertopeng juga.
Karena tahu bahaya yang sangat besar, begitu turun dari kuda sang putri langsung menyerang dengan sebuah pukulan. Tetapi dengan tertawa manusia bertopeng tersebut menyambut pukulan tersebut dengan keras lawan keras, yang mengakibatkan sang putri terpental jauh ke belakang.
Pada saat itulah terdengar suara lirih seperti sabitan senjata rahasia ke arah manusia bertopeng. Walaupun sedikit kaget tetapi dia masih sanggup untuk mengelak serangan itu, tetapi baru saja berhasil mengelak ternyata ada serangan senjata rahasia lain yang menyusul. Tentu saja serangan ini masih dapat dihindari olehnya, tetapi lumayan membuatnya kerepotan karena kecepatan si pelempar termasuk sangat hebat sehingga dapat membuatnya sedikit kerepotan.
Setelah berhasil menghindar kembali dia langsung menyerang ke arah rimbunan semak di depannya, karena asal senjata rahasia tersebut adalah dari semak di depannya.
Tetapi ketika seluruh semak didepannya hancur berantakan tidak tampak sedikitpun bayangan manusia yang menangkis atau menghindar dari pukulannya. Dari kejadian ini dia langsung tahu bahwa orang yang membokongnya bukan orang yang bisa diremehkan.
Dengan geram dia membentak, "Siapapun dirimu silahkan tunjukkan batang hidungmu kehadapanku. Jangan hanya berani membokong saja."
Tetapi setelah ditunggu lama tiada jawaban dan gerakan, karena sadar ada yang tidak beres lalu ia kembali melihat ke tempat putri tadi tergeletak. Dan ternyata sudah tidak ada lagi bayangan sang putri. "Kurang ajar" umpatnya ketika sadar ia telah kecolongan. Selanjutnya ia langsung berkelebat ke arah kedua temannya tadi bertempur.
Siapakah sesungguhnya yang menyerang manusia bertopeng tadi dengan senjata rahasia?
Lalu kemanakah perginya putri savira?
Selamatkah pangeran naufal dari kekejaman para manusia bertopeng tadi?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar