Senin, 06 Agustus 2012
BAB III Pemberontakkan terselubung
Dewi Angin telah sampai di depan istana, terlihat penjagaan di pintu gerbang istana sedikit ramai, semenjak ada berita kehilangan putri dan pangeran penjagaan semakin diperketat. Tetapi hal ini bukan suatu halangan bagi Dewi Angin, dengan sekali lonjakan saja dia telah melayang ke area pekarangan istana. Dengan kecepatan tubuhnya ia berhasil mendapat tempat untuk melihat keadaan sekitarnya. Dia seorang yang tinggi hati bila harus permisi secara baik-baik lewat pintu depan, dan menurutnya cara yang sekarang inilah yang paling tepat.
Di bagian barat pelataran istana terdapat sebuah rumah pondokan yang terlihat lebih besar dan mewah dari bangunan yang lainnya, Dewi Angin beranggapan tempat itulah yang harus ia tuju. Dengan sekejap saja dia sudah berada di atap bangunan mewah itu. Terdengar suara tangisan lirih dari seorang wanita, dan juga suara lelaki yang rupanya membujuk untuk si wanita agar bersabar dalam menghadapi cobaan.
"Semua cobaan datangnya itu dari Tuhan, tidak mungkin cobaan itu dikirim tanpa ada sebuah hikmah di dalamnya. Sebagai makhluk ciptaan-Nya kita wajib menjalani dan berupaya menghadapinya dengan semampu kita." ucap sang lelaki.
"Tapi kanda, kejadian ini terlalu mendadak. Setelah hampir dua puluh tahun kita hidup tentram, mengapa justru harus ada kejadian hari ini, kanda." ucap sang wanita dengan sedikit isak yang masih tersisa.
"Tenanglah dinda, savira dan naufal pasti akan baik-baik saja. Aku yakin mereka akan tetap selamat dan dapat secepatnya kembali ke istana kita." bujuk sang lelaki berusaha menenangkan wanita yang tampaknya adalah sang istri.
Mendengar ucapan suami istri di dalam, Dewi Angin langsung menebak bahwa mereka adalah raja dan ratu Kerajaan Gigantara yang sedang menangisi kepergian yang tidak jelas dari putra-putri mereka. Karena sudah gatal terlalu lama menunggu, maka Dewi Angin langsung saja menerebos masuk ke dalam pondokan tersebut.
Begitu berada di dalam ternyata di depan pintu dijaga oleh dua orang pengawal, yang merupakan dua orang dari regu pasukan khusus istana Gigantara.
Karena terkejut akan kehadiran seorang wanita setengah tua yang sangat tiba-tiba tanpa mereka rasakan sebelumnya, langsung saja mereka mencabut senjata mereka masing-masing. Salah seorang dari mereka membentak,
"Hei siapa kamu yang sangat lancang menerobos kedalam kediaman raja?" bentaknya sengit.
Dewi Angin lalu menjawab sambil terkekeh "Aku ini nenekmu masa baru beberapa lama tidak berjumpa kamu sudah lupa pada nenekmu ini cucuku"
"Ikikikikikikikiki" kekeh Dewi Angin meniru tawa kuntilanak kejepit.
"Hey..Wanita tua kurang ajar, jawab yang jelas apa sebabnya berani-beraninya kamu menerobos ke tempat ini?" bentak pengawal itu tadi.
"Heh..kamu ini jadi pengawal sok galak banget sih, tidak sopan kepada orang tua. Awas kalo ketemu atasanmu gwe aduin biar tahu rasa lue." Ledek sang Dewi Angin.
"Cepat beritahukan kepada raja kalian bahwa aku membwa kabar tentang putrinya yang hilang" lanjut Dewi Angin dengan ekspresi wajah yang sok serius.
Sedangkan dari dalam raja dan ratu pun sudah keluar karena semenjak tadi sebenarnya mereka sudah mendengar suara ribut-ribut di luar.
"Hei nini yang baik hati, apakah benar dirimu tahu tentang kabar keberadaan anak-anakku? Dimana mereka sekarang?" tanya raja yang baru keluar bersama sang ratu.
Sedangkan sang ratu sendiri begitu melihat Dewi Angin seperti sedikit kaget.
"Anantasita..Hei benar dirimu pasti Anantasita." ucap sang ratu Zaskia tiba-tiba.
"Ehhh...kamu siapa kok tahu namaku?" tanya Dewi Angin pula.
"Anantasita kakak ku..Mengapa kau tidak dapat mengenali adikmu sendiri?" lanjut sang ratu diselingi sebuah senyum di wajahnya.
"Ahh...kau Zaskia? Zaskia adikku? Benarkah itu kamu? Ahh..benar, kau memang Zaskia"
"Sudah bertahun-tahun aku mencarimu kemana-mana, sudah beribu-ribu alamat palsu yang ku datangi, gunung ku daki lautan ku seberangi, ternyata adikku ada di sini. Bagaimana kabarmu? Mengapa bisa sampai kemari? Sudah makan belum?" cerocos Dewi Angin tidak berhenti-henti hingga raja dan ratu serta dua pengawal untuk beberapa saat cuma bisa terbengong-bengong melihatnya.
"Cibi (kakak dalam bahasa negeri seribu dewa), aku sekarang adalah ratu di kerajaan Dirgantara, dan perkenalkan ini kakang Ranggapati Raja di kerajaan ini sekaligus suamiku yang terganteng." Ucap ratu zaskia memperkenalkan suaminya pada sang kakak.
"Hmmmm....Sudah bersuami punya anak juga, ehhh...anaknya hilang malah kalian berdua asik rayu-rayuan di sini" Kata Dewi Angin. "Bikin gwe iri aza." Lanjutnya dalam hati.
"Cibi rupanya dirimu sudah mendengarkan keluh kesahku tadi?" tanya sang ratu.
"Bukan saja sudah dengar semua tangismu yang melebihi ratapan anak tiri, tapi aku juga tahu di mana keberadaan anakmu yang perempuan." ujar Dewi Angin.
Ratu dan Raja kaget, "Apaaa???" sahut mereka kompak.
"Yang benar cibi? Dimana anakku Savira berada? Ayo katakan segera cibi!!!" tanya sang ratu tak sabar.
"Wani pirooooo...????" tanya Dewi Angin kumat tengilnya.
Ratu Zaskia gemas melihat tingkah kakaknya, "Sudahlah cibi ayo segera katakan dimana anakku berada?"
"Tenang anakkmu berada di tempat yang aman." ujar Dewi Angin seraya menceritakan kejadian beberapa saat lalu ketika ia menyelamatkan putri Savira hingga niatnya menjadikan sang putri menjadi muridnya.
"Begitulah kisahnya, kini anakmu aman bersamaku. Dan kalian tidak boleh tawar-menawar lagi denganku. Savira akan jadi muridku, dan akan ikut bersamaku sampai tamat belajar semua kesaktianku." ucap Dewi Angin.
Ratu Zaskia mengalihkan tatapannya pada sang suami seraya mengangguk. Melihat kode itu maka berkatalah Raja Ranggapati, "Baiklah mbakyu Anantasita, kami sangat bersyukur karena kau telah menyelamatkan anak perempuanku dari malapetaka. Dan mungkin memang sudah menjadi rezekinya untuk menjadi murid seorang guru yang hebat seperti dirimu ini" Ucap sang raja walaupun sebenarnya dalam hati belum sepenuhnya yakin dengan kemampuan cibinya ini.
Keraguan sang raja tentu saja dapat dirasakan oleh Dewi Angin, "Walaupun aku bukan termasuk yang paling sakti pada zaman ini, namun nama Dewi Angin ku rasa tidak terlalu buruk kan?"
Raja dan ratu sedikit tercegang oleh perkataan sang cibi, "Jadi mbakyu adalah Dewi Angin yang terkenal dengan ilmu meringankan tubuh dan termasuk sebagai pendekar wanita yang sedang tenar-tenarnya beberapa tahun belakangan ini? Wah tentu anakku Savira akan menjadi seorang pendekar wanita yang hebat pula setelah tamat belajar nanti.
"Lihat saja nanti bakal jadi seperti apa." jawab Dewi Angin dengan gaya yang sok meyakinkan.
"Sudahlah, aku sudah terlalu lama meninggalkan muridku itu di penginapan, kami tidak akan pamit lagi kemari. Setelah tamat nanti muridku itu akan kusuruh mencari kalian. Sampai jumpa." ucapan perpisahan Dewi Angin sambil memamerkan tingkat tertinggi dari ilmu meringankan tubuhnya. Suaranya belum hilang tetapi orangnya sudah lenyap entah kemana.
Raja, ratu dan dua pengawal sangat terpesona dengan pertunjukkan yang ditontonkan sang kakak.
"Dinda rupanya Savira selamat, semoga Satria juga dapat menemui keajaiban pula sehingga dapat terselamatkan." Ujar sang Raja.
"iya kanda, dengan selamatnya savira hatiku sedikit lega. Sekarang kita bisa lebih terfokus untuk mencari kabar dari Satria." ucap sang ratu.
"Pengawal beritakan kepada paman Raskapadena atau kakang Hakan Yuki bahwa putri Savira sudah selamat, dan selanjutnya pencarian lebih fokus kepada pangeran Satria saja." Perintah sang raja
"Sendika gusti" jawab dua pengawal
Pencarian hari berikutnya sangat besar-besaran, hampir separuh dari prajurit kelas bawah diturunkan, ratusan telik sandi disebar untuk mencari kabar, bahkan ki Agil setiorogo (Kepala pengawal khusus), Ki sapta kencana (Kepala telik sandi) dan juga Menteri Hakan Yuki pun turun langsung ke lapangan. Hal ini tentu saja membuat kekosongan yang cukup besar pada keamanan di dalam istana Gigantara, ternyata keadaan ini mulai disadari oleh penasehat kerajaan Gigantara ki Raskapadena, namun sayangnya hal ini sudah sangat terlambat. Karena saat ini di depan halaman istana telah ramai oleh kunjungan ratusan orang berbaju hitam dan memakai topeng. Terlihat dari kekompakkan, langkah yang mantap dan bentuk barisan yang sangat rapih, menunjukkan bahwa mereka bukanlah rombongan orang sembarangan yang dapat diremehkan.
Walaupun secara kuantitas jumlah mereka belum memadai jumlah pengawal istana yang masih tersisa sekarang, tetapi kualitas pengawal yang tersisa sangatlah jauh dari baik, sebab pemimpin mereka ki Agil setiorogo, Ki sapta kencana dan juga Menteri Hakan Yuki sedang dinas keluar. Secara ilmu kanuragan yang tersisa hanya ada ki Jorang wukutenu yang sedang cidera, walaupun sudah mulai mebaik tetapi tentu saja tidak bisa diandalkan 100% menghadapi kejadian saat ini.
Tidak beberapa lama maka terjadilah pertempuran di depan istana kerajaan Gigantara, dan tidak memakai tempo yang lama terlihat pasukan kerajaan yang tanpa pemimpin terdesak menuju ambang kekalahan, beberapa pentolan dari pihak penyerang mulai masuk ke dalam istana.
Menyaksikan suasana yang sepertinya mulai sukar untuk dikendalikan segera saja ki Raskapadena berlari menuju ke tempat raja dan ratu menunggu kabar. Sejak awal mereka sudah mendengar adanya keributan, namun disarankan oleh sang penasehat untuk tetap disana menunggu kabar darinya.
Walaupun keadaan sangat mengkhawatirkan namun ketika berkata ki Raskapadena tidaklah menampakkan sedikit pun kekhawatiran namun tetap terlihat sedikit kesedihan pada wajahnya,
"Di luar keadaan sedang tidak baik Baginda, rupanya ini semua merupakan taktik musuh yang mencerai beraikan kekuatan kerajaan kita, karena beberapa saat sebelum adanya pertempuran di depan hamba menerima kabar bahwa pasukan yang mencari pangeran Naufal yang terbagi menjadi tiga kelompok semuanya dihadang musuh. Musuh sudah merencanakan dengan matang penyerangan ini, hamba sebagai pemikir dari kerajaan ini ternyata tidak becus untuk segera melihat semua kejanggalan sehingga mengakibatkan lancarnya rencana musuh. Yang kita punya saat ini hanya ki Jorang wukutenu dan dua pengawal khusus saja, tetapi ki Jorang wukutenu mungkin sudah turun pula ke medan pertempuran. Namun mengingat baginda berdua mempunyai ilmu kanuragan yang cukup tinggi, tentu kalau untuk menyingkir sementara hamba rasa sangat mudah. Biarlah keadaan di sini hambamu yang tidak becus ini yang akan berjuang hingga titik darah terakhir." kata ki Raskapadena melaporkan keadaan sekaligus memberikan pendapatnya.
"Apa paman? Kau suruh kami kabur sebelum merasakan sakitnya tusukan golok dan pedang mereka? Apakah paman sangka kami orang yang pengecut?" ujar sang raja dengan sedikit emosi.
"Ampun baginda, bukan hamba meragukan keberanian paduka. Tetapi bila melihat kejadian demi kejadian saat ini rupanya ucapan pertapa tua yang pernah hamba ceritakan hampir semuanya mendekati kebenaran. Bila hamba tidak salah tangkap sesungguhnya kejadian ini bisa dikatakan pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat kita, walaupun hingga saat ini belum terlihat wajah sang pemimpin dari mereka. Bila melihat penampilan mereka yang serba misterius namun rata-rata memiliki ilmu kanuragan yang tergolong kelas satu dalam dunia persilatan, tentu pemimpin mereka setidaknya orang yang terkenal mungkin di dunia persilatan ataupun bisa jadi tokoh dari kerajaan lain. Oleh karena itu, mohon kiranya paduka mendengarkan nasehat hamba yang terakhir kalinya. Jangan sampai mati konyol, karena masih ada tugas untuk menyelidiki siapa pelaku dan mengumpulkan panglima-panglima kita yang handal yang sedang dinas di luar istana sehingga masih memungkinkan bagi baginda ketika akan membalas perbuatan mereka ini." Ki Raskapadena memohon kepada Raja Ranggapati.
"Nasehat paman sangat berarti bagiku, maaf bila aku tadi sedikit kasar. Dinda ayo segera bersiap seadanya, kita cari kakang Hakan Yuki dan kumpulkan semua punggawa kita yang sedang mencari ananda Satria selanjutnya kita kembali kesini untuk menghancurkan mereka." Ajak sang raja kepada ratu Zaskia.
"Silahkan baginda dan ratu lewat pintu rahasia, kedua pengawal sudah menyiapkan semua kebutuhan. Segala ucapan sudah ku titipkan kepada mereka. Semoga baginda selamat di jalan." salam perpisahan diucapkan sang penasehat dengan wajah sedih.
"Baiklah, sebisa mungkin paman mengulur waktu hingga bantuan datang. Aku pamit dulu paman." pamit sang raja.
Lalu bersama ratu zaskia ia masuk ke jalan rahasia, yang selama ini hanya orang-orang yang benar-benar menjadi kepercayaan raja saja yang mengetahui jalan ini. Dan tentu saja tidak ada halangan yang menghadang mereka. Namun, perjalanan mereka tidak untuk mencari para punggawa kerajaan lain yang tercecer, karena ketika menerima kabar dari telik sandi dari luar telah diwartakan kalau pasukan pencari sang pangeran semuanya tercerai berai dihajar musuh. Sehingga menurut pemikiran penasehat tentu saja tidak dapat diharapkan bantuan dari mereka. Sehingga ia menitipkan pesan untuk keselamatan raja dan ratu, maka dengan sangat terpaksa dua pengawal tersebut memberikan obat pemabuk pada makanan dan minuman raja dan ratu, selanjutnya mereka membawa junjungannya dengan kereta ke arah timur tujuannya adalah Gunung Semeru, sesuai petunjuk dari sang penasehat sebelumnya.
Belum sampai sepenanakan nasi mereka menempuh perjalanan di depan terlihat ada rombongan kecil berkuda dari arah depan, ketika jarak mereka sudah tidak jauh lagi terdengar teguran dari arah rombongan kecil itu,
"hei, Suketi siapa yang kau bawa dengan kereta itu? Keadaan sedang gawat mengapa kau justru tidak menjaga di samping junjungan kita raja dan ratu Gigantara?" tanya salah seorang dari rombongan tadi yang rupanya adalah Menteri Pertahanan dari kerajaan Gigantara yaitu Hakan Yuki, dimana dalam rombongannya terdapat pula Ki sapta kencana, salah seorang anggota pasukan khusus dan sisanya adalah pengawal biasa jumlah rombongan mereka ada 15 orang. Rupanya kabar kehancuran pasukan pencari pangeran Naufal benarlah adanya.
Melihat siapa yang menegurnya tentu saja salah satu pengawal khusus yang mengendarai kereta tadi yang bernama Suketi sangat girang, di dalam pikirannya terbebaslah beban dipundak mereka ber 2 saat ini. Ya tentu saja beban itu dapat dialihkan ke pundak Menteri Hakan Yuki. Maka jawabnya pada Hakan Yuki,
"Beruntung sekali kita dapat bertemu di sini paduka Hakan, Ki sapta kencana, dan juga kakang Surya. Aku bersama Kakang Jampang sedang mengawal sri baginda beserta sang ratu menuju ke timur sesuai pesan dari Ki Raskapadena" Selanjutnya Suketi menceritakan kejadian di istana Gigantara, sampai pada pesanan dari Ki Raskapadena untuk menyelamatkan junjungan mereka.
"Kurang ajar, rupanya semua ini sudah direncanakan dengan matang oleh pihak musuh. Kakang Hakan silahkan kakang mengawal junjungan sampai tempat tujuan mengikuti rencana Ki Raskapadena, biarlah aku yang melihat-lihat keadaan di istana" ucap Ki sapta kencana.
Hakan Yuki terlihat berpikir sejenak, selanjutnya ia berkata,
"Kau ajaklah Adi Surya bersamamu, bila ada kejadian penting kau bisa menyuruhnya untuk memberi kabar. Kita berhubungan dengan cara yang biasanya.
"Okelah kalau begitu...kami pamit sekarang kang" jawab Ki sapta kencana seraya mengajak salah satu pengawal khusus yang bernama Surya pergi.
Dan setelah keberadaan Mentri Hakan Yuki maka raja dan ratu disadarkan, selanjutnya Hakan Yuki menceritakan keadaan kerajaan yang sangat kritis, dan meminta kepada raja dan ratu untuk sementara mengungsi sambil memikirkan langkah yang terbaik untuk ke depannya. Pada awalnya raja masih mengkhawatirkan keadaan istana dan hendak kembali untuk bertempur hingga penghabisan, namun setelah berunding beberapa lama, maka mereka bersepakat untuk mencari tempat aman sambil menunggu kabar dari Ki sapta kencana, selanjutnya melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana dari penasehat Ki Raskapadena semula, karena untuk saat ini hanya jalan ini yang terasa sangat baik bagi keamanan sang raja dan ratu.
Pada hari ketujuh ketika mereka sampai di kaki gunung Semeru, datanglah kabar dari Ki sapta kencana lewat burung pembawa berita, disampaikan bahwa Kerajaan Gigantara saat ini dikuasai oleh menteri bagian keuangan (Danu Wasesa) yang rupanya biang keladi pemberontak yang dibantu oleh Jorang wukutenu. Prajurit-prajurit yang semula mereka tangkap kini sudah menjadi seperti setia kepada mereka, karena banyak dari mereka terpaksa setia karena keluarga mereka disandera oleh pemberontak, banyak pembesar yang setia dibantai tanpa ampun. Sedangkan sebagian dari pasukan misterius yang menyerang sudah diketahui sedikit jati diri mereka, yaitu sebagian merupakan dedengkot dunia hitam antara lain adalah Iblis Muka Hitam, Betina racun, dan ada juga Si Pengadil Neraka. Dan berita yang cukup mengejutkan adalah bahwa Jorang wukutenu sesungguhnya penyamaran dari seorang iblis tua yaitu Dedengkot Iblis dari Neraka, seorang buronan rimba persilatan sejak puluhan tahun yang lalu karena kasus pembantaian pada banyak tokoh persilatan, iblis tua ini sangat pintar menyamar sehingga sampai saat ini masih hidup damai bahkan sudah 3 tahun ini justru menjadi tokoh istana. Selain itu dikabarkan pula bahwa penasehat Ki Raskapadena telah mereka penjarakan, dikarenakan tidak mau menakluk kepada mereka namun dikarenakan sewaktu-waktu mungkin masih akan berubah pikiran sehingga hanya dipenjarakan sementara tanpa mengalami siksaan dan ancaman apapun, karena sejak dulu Ki Raskapadena tidak punya sanak keluarga, karena asalnya ia perantauan dan belum pernah menikah.
Kabar tersebut tentu saja sangat mengejukan rombongan itu, namun kini paling tidak mereka sudah tahu siapa musuh mereka. Kalau musuh sebagian besar adalah tokoh sesat, tentu saja jalan keluar yang cukup realistis adalah mencari bantuan dari pihak para pendekar dan perguruan silat yang tergolong aliran putih. Namun, hal ini menurut Hakan Yuki dapat ditangguhkan sementara. Saat ini yang sangat perlu adalah mengamankan raja dan ratu, karena tentu saja pihak pemberontak tidak akan tenang sebelum raja dan ratu dapat mereka tangkap bahkan mereka binasakan. Oleh karena itu, perjalanan pun segera dilanjutkan.
Belum lama mereka beranjak tiba-tiba terdengar bunyi suara harpa yang melantunkan irama sangat menyedihkan, semakin lama semakin mendayu mempengaruhi jiwa seakan-akan mengajak mereka untuk menangis. Beberapa prajurit bahkan sudah terlihat raut wajah mereka mulai mewek-mewek mau nangis, namun tiba-tiba sang raja seperti teringat sesuatu lalu berkata,
"Suara harpa ini...Mungkinkan seperti cerita dari paman Raskapadena, harpa yang dimainkan oleh pertapa tua?"
Setelah kata-kata raja ranggapati terucap tiba-tiba suara lantunan harpa pun terhenti, sunyi senyap hingga beberapa lama. Hingga akhirnya sang raja berkata untuk pergi ke arah bunyi harpa tadi. Lalu beranjaklah mereka semua ke arah bunyi harpa tersebut. Tidak seberapa jauh mereka melangkah terlihatlah di depan sebuah bangunan seperti tempat ibadah, dari luar terlihat bahwa bangunan mirip kuil tersebut sangatlah terang benderang. Suasana di sekitarnya pun sangat sunyi, di depan pintu kuil terlihat seorang pertapa separuh baya sepertinya memang menunggu kedatangan mereka semua.
Ketika sampai di depan pertapa tersebut Hakan Yuki pun menyapa, "Mohon maaf bila kami semua mengganggu ketenangan bapak pertapa, kami semua berjalan dari jauh hendak mencari tempat berteduh, mohon kiranya bapak pertapa dapat memberi petunjuk."
Dengan sedikit tersenyum sang pertapa itu menjawab, "Sudah sedari tadi Guruku menunggu kehadiran Baginda beserta rombongan, silahkan ikuti hamba ke ruangan dalam."
"Oh...marii." Kali ini sang Raja sendiri yang menjawab. Selanjutnya mereka semua pun masuk ke dalam mengikuti pertapa tadi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar