Sabtu, 04 Agustus 2012

BAB II Terselamatkan?


Kerajaan Gigantara sore itu gempar mendengar berita yang dibawa oleh Ki Jorang wukutenu, Ki Jorang dengan muka babak belur, pakaian robek sana sini membopong mayat kyai Brogo serta membawa warta yang mengejutkan atas penyerangan yang terjadi di hutan Guama.

Dari cerita Ki Jorang mereka diserang dua orang bertopeng yang sangat tinggi sekali ilmu kanuragannya. Sehingga Kyai brogo beserta dua orang pengawal khusus dihajar hingga tewas, seorang pengawal khusus berusaha menyelamatkan pangeran dan putri namun hingga kini belum ketahuan rimbanya. Sedangkan iapun terpaksa melarikan diri dari pertempuran karena melihat pangeran dan putri sudah berhasil melarikan diri.

Tapi ternyata putri savira dan pangeran naufal kedapatan belum kembali. Ketidakpulangan mereka itulah yang membuat kebimbangan dari hampir seluruh penghuni istana kerajaan Gigantara. Tim investigasi pun langsung diperintahkan turun ke TKP, melakukan penelusuran dan penyelidikan.

Raja Ranggapati memerintahkan sebagian besar pengawal elite kerajaan untuk segera mencari keberadaan putra-putrinya. Tujuh orang dari pengawal elite didampingi Ki Jorang beserta 100 prajurit biasa dikerahkan untuk menelusuri hutan Guama.

Selanjutnya Sang raja pun memanggil penasehat Kerajaan yaitu Raskapadena. Sang raja meminta pendapat dari sang penasehat, yang selama ini banyak membantu memikirkan masalah yang ada di kerajaan Gigantara baik besar maupun kecil.

"Bagaimana menurut paman Raskapadena mengenai kejadian penyerangan terhadap putra-putri ku di hutam Guama?" ucap sang Raja.

"Kalau berdasarkan keterangan dari Ki jorang wukutenu, menurut hamba sepertinya ada pihak tertentu yang memang sengaja menimbulkan kekacauan di kerajaan kita ini baginda raja." ucap sang penasehat.

"Lalu menurut paman kira-kira pihak mana yang memungkinkan untuk melakukan kekacauan ini?" lanjut sang Raja.

"Terlalu sulit untuk dikatakan siapa dan darimana. Karena sudah beberapa lama ini di semua daerah tidak pernah terdengar kejadian yang luar biasa, tidak pernah terdengar kerusuhan yang besar, dan juga tidak pernah ada terdengar terbentuknya kelompok atau perkumpulan dengan ambisi yang bakal membuat adanya ketidaktentraman." ucap Raskapadena.

"Bila melihat keadaan kerajaan selama ini baik rakyat jelata, para petani, pedagang, prajurit, serta segenap isi kerajaan ini sepertinya tidak pernah ada keluhan kecewa mengenai kebijaksanaan Yang Mulia selama ini. Bahkan hampir di setiap pelosok di kerajaan kita ini selalu membanggakan nama Yang mulia Raja Ranggapati, sebagai seorang pemimpin yang benar-benar mengerti aspirasi rakyatnya, jujur dan juga berwibawa." lanjut Raskapadena.

Tiba-tiba seperti teringat sesuatu, dengan ekspresi wajah tersirat rasa kekhawatiran sang penasehat berkata, "Yang Mulia, tiba-tiba hamba teringat kejadian pada awal tahun ini. Dimana ketika hamba sedang berada di rumah peristirahatan di sekitar Sungai Pandan Wangi, pada waktu itu hari masih sangatlah pagi. Suasana cerah dan juga udara sangat sejuk, tetapi tiba-tiba hamba mendengar suara harpa yang bernadakan kesedihan yang sangat mendalam." berkata sang penasehat.

"Karena penasaran hamba segera mendatangi ke arah sumber suara harpa tersebut, disana hamba mendapati seorang pertapa tua yang memainkan harpa dan pandangannya jauh ke langit dengan raut wajah dirundung kesedihan yang mendalam." cerita sang penasehat.

"Pada saat itu hambamu berpikir mengapa disaat yang sangat indah seperti ini, pertapa tua itu justru melantunkan harpa dengan irama yang menyedihkan. Karena penasaran lalu hamba menegur pertapa tersebut. Hamba bertanya kepadanya apa yang menjadi beban pikiran pertapa itu sehingga ia seperti sedang dalam kesedihan" lanjut sang penasehat.

Mendengar pertanyaan dari penasehat kerajaan itu pertapa tua itu lalu menghentikan permainan harpanya. Ketika melihat yang bertanya kepadanya adalah seorang yang berpakaian seperti bangsawan, sang pertapa lalu tersenyum diwajahnya tidak lagi mengisyaratkan bahwa ia baru saja melantunkan sebuah lagu penuh kesedihan. Semakin memandang ke arah pertapa sang penasehat merasa bahwa pertapa tersebut adalah seorang yang kharismatik, sehingga tanpa sadar timbul rada hormat di hati penasehat itu.

Pertapa tua itu lalu berucap, "Kalau hamba tidak salah mengenali tuanku ini tentulah penasehat Raskapadena dari kerajaan Gigantara yang sejahtera. Mohon maaf sekali jika lantunan harpa orang tua ini sangat mengganggu ketenangan Tuan"

Mendengar ucapan sungkan dari sang pertapa tadi membuat Raskapadena itu menjadi serba salah. Entah mengapa melihat sorot mata dari sang pertapa itu membuat Raskapadena merasa justru dirinyalah yang menjadi kaum hamba. Dari aura wajah sang pertapa itu terpancar kewibawaan dan juga welas asih.

Dengan sedikit terbata penasehat pun menjawab, "Eh..maaf Guru, eh..Eyang Resi. Diri ini cuma sedikit heran, tidak biasanya sepagi ini mendengar lantunan irama yang sangat sedih, sehingga menimbulkan penasaran untuk mendatangi kemari."

"Hmmm....Nyanyian sedih di waktu mentari baru saja bersinar terang dan udara pagi masih sesejuk ini. Sangat tidak tepat, sungguh kejadiaan yang sangat tidak tepat. Tetapi kejadian hari ini mungkin tidak beberapa lama lagi akan tuanku saksikan kembali." ucap sang pertapa tua sambil berlalu meninggalkan penasehat Raskapadena.

Sang penasehat tersebut hanya terpaku melihat langkah kepergian pertapa tua tersebut. tapi ia masih mendengar kembali ucapan dari pertapa itu.

"Pada saat terlihat badai tidak dapat diredakan, berjalanlah segera menggapai ke arah mentari. Dua jalur tetapi satu sumber harusnya bisa menyatu, mengapa justru harus terpecah belah. Takdir..mungkin semua adalah takdir dari Nya." Ucapan pertapa itu masih terdengar di telinga tetapi sosoknya sudah pergi entah kemana.

"Dan setelah itu hamba seperti baru tersadar dari mimpi di siang bolong, ketika hamba mencari-cari pertapa tua tersebut hambamu tidak menemukan siapapun disana." Cerita sang penasehat kepada Raja Ranggapati.

Mendengar cerita barusan Raja Ranggapati seperti mendapat firasat yang tidak mengenakkan.

"Kalau mengikuti ucapan pertapa tersebut sepertinya bakal terjadi sesuatu yang sangat tidak mengenakan pada kerajaan ini" Ucap sang Raja.

"Hambamu tidak berani memastikan hal itu Yang Mulia, semoga hal yang terbaik yang akan terjadi. Selama ini kehidupan rakyat kita sudah cukup makmur sejahtera, sangat disayangkan bila terjadi hal-hal yang tidak baik pada kerajaan ini yang nantinya bisa berimbas juga pada kehidupan rakyat kita" kata penasehat Raskapadena.

"Ya semoga saja tidak terjadi apa-apa, dan anak-anakku bisa segera ditemukan.  Tolong paman temui kakang Hakan Yuki, dan ajak ia untuk mengurus masalah yang ada saat ini. Aku akan ke dalam menenangkan adinda Zaskia dahulu."  Ujar sang raja.

"Baik Yang Mulia" ucap Raskapadena sambil pamit memohon diri.

Selanjutnya marilah kita ikuti perjalanan dari putri savira.

Setelah melancarkan serangan dengan senjata rahasia sesosok bayangan berkelebat dengan kecepatan tinggi meraih tubuh putri savira dan membawanya pergi keluar dari hutan Guama. Setelah merasa aman dan jauh dari hutan Guama bayangan tersebut lalu berhenti dan menurunkan tubuh putri Savira untuk diperiksa.

"Sungguh kejam" Tiba-tiba orang itu yang rupanya seorang wanita usia pertengahan berucap.

"Untuk menghadapi bocah sekecil inipun bedebah itu harus melancarkan serangan dengan tenaga yang mematikan. Tampaknya orang itu berniat membunuh bocah perempuan ini" pikir wanita itu.

"Untung aku Dewi Angin masih sempat menolongnya, kalau tidak mungkin sudah ko'it ne bocah perempuan. Sayang sekali bila bocah secantik ini harus mati muda, apalagi bila menilik wajahnya sepertinya bocah ini juga berasal dari negeri dewata tempatku berasal." pikir wanita yang rupanya adalah Dewi Angin yang merupakan tokoh yang sangat terkenal dengan ilmu meringankan tubuh dan juga senjata jarum rahasia.

Dengan segera ia melakukan penyembuhan dengan cara menyalurkan tenaga dalamnya kepada sang putri. Setelah sepeminuman teh berlalu terlihat sang putri mulai tersadar dari pingsannya, lalu Dewi Angin pun menyodorkan obat penyembuh luka dalam miliknya.

"Makan obat ini segera" ujar Dewi Angin.

Sejenak putri Savira terkaget, namun otaknya segera berpikir cepat. "Rupanya wanita ini adalah orang yang menyelamatkan dirinya. Tanpa banyak tanya langsung saja ia menelan obat yang disodorkan kepadanya."

Beberapa saat setelah meminum obat tadi dirasakan badannya kembali normal, ada hawa sejuk yang dirasakan didalam badannya.

"Terima kasih atas pertolongan yang telah diberikan kepadaku Nyi" ucap sang Putri.

"Aku secara kebetulan saja sedang lewat dan cuma iseng menyelamatkanmu." kata Dewi Angin dengan nada yang sok cuek.

"Siapa nama mu bocah cantik?" tanya Dewi Angin.

"Namaku Savira, Nyi" jawab putri Savira.

"Walau aku cuma iseng, tapi sepertinya kita ada jodoh. Dan aku tertarik menjadikanmu menjadi muridku, apakah kau mau menjadi murid Dewi Angin bocah cantik?" tanya Dewi Angin kepada putri Savira.

"Dewi Angin..Inikan tokoh yang sedang tenar dengan ilmu meringankan tubuhnya yang seperti melebihi kecepatan angin yang sering diceritakan guru-gurunya. Wah mau banget ni jadi muridnya, biar bisa belajar ilmu melesat seperti angin" Pikir sang Putri.

"Sebenarnya murid sangat ingin menjadikan Dewi sebagai guru, tetapi kebetulan murimu ini masih mempunyai orang tua yang menjadi raja dan ratu di kerajaan Gigantara. Sehingga tentu saja masih harus memohon izin dari mereka terlebih dahulu." Ucap sang putri.

"Wow anak raja cuy..wah kalah keren ne gw agaknya" Terlintas sedikit rasa kaget dalam pikiran Dewi Angin. Sebenarnya ia sudah menebak bahwa bocah perempuan yang sudah tidak bocah lagi itu adalah seorang keturunan bangsawan, tetapi ia tidak menyangka kalo ne bocah putri raja.

"Gimana ne Berani gx yaa.....Minta izin sama bonyoknya" pikir Dewi Angin sok centil.

"Hmmmm...asal kamu bocah sudah setuju, walaupun dewa pun akan ku samperin untuk mintakan izin kepada mereka. Nanti kita cari penginapan sementara untukmu beristirahat, sedangkan aku akan langsung menemui kedua orangtuamu di kerajaan Gigantara" Ucap Dewi Angin sok yakin n sok berani.

"Baiklah kalau begitu guru, terimalah hormat dari muridmu ini guru" Ucap Savira seraya memberikan penghormatan kepada sang Guru.

"Murid pintar." Puji Dewi Angin.

"Baiklah mari kita cari tempat untuk beristirahat dahulu." Lanjut Dewi Angin.

"Mari Guru." Ajak Savira.

"Yuk...marii.." ucap sang guru dalam hati.

Mari sementara kita tinggalkan putri Savira yang sudah diselamatkan oleh gurunya yang sok galak tapi centil, kita beralih kepada pangeran kecil.

Setelah terpental dan kemudian dengan susah payah membawa lari pangeran kecil, pengawal tersebut langsung mengerahkan seluruh kemampuannya untuk kabur secepat mungkin. Mungkin karena terburu-buru itulah maka ia tidak sempat melihat arah kaburnya. Ia justru kabur masuk ke bagian yang paling dalam dari hutan tersebut, beruntung ketika manusia bertopeng itu hendak mengejar ia telah dihalangi oleh dua pengawal yang lain, namun dengan 2 kali babatan saja dua pengawal tersebut sudah mati bersimbah darah.

Namun waktu yang sekejap itu ternyata tidak disia-siakan oleh pengawal yang membopong pangeran kecil, karena sebenarnya para pengawal khusus bentukan istana tersebut terdiri dari 12 orang yang merupakan pesilat tangguh yang dapat digolongkan ke tingkat pesilat utama yang pilih tanding. Walaupun sudah menderita luka dalam yang tidak ringan tetapi masih mampu untuk menghindar sementara dari kejaran manusia bertopeng tersebut.

Ketika pelarian mereka sudah hampir keluar dari hutan di jalan yang lain, pengawal itu mendapati seorang lelaki yang berjalan dari arah depan menuju ke arah mereka. Untuk sejenak timbul rasa khawatir di hati pengawal tersebut, "Musuhkah orang ini?" pikirnya.

Setelah dia berada dekat dengan orang tersebut ternyata lelaki tersebut adalah orang yang ia kenal, Rakai Juanda Ketua Padepokan Jati Agung, "Kemungkinan mereka bisa tertolong." pikirnya dengan hati sedikit lega.

"Hei Ki Rakai Juanda, untung bisa bertemu kamu di sini cepat kamu tolong pangeran pergi dari sini. Selanjutnya hidup mati pangeran naufal adalah tanggung jawabmu. Aku tidak sempat menjelaskan lagi, ada musuh tangguh dibelakang yang mengejar aku. Kesaktiannya tidak mampu dilawan walaupun kita berdua mengeroyoknya. Cepat bawa pergi pangeran dari sini, aku yang akan menghalangi sementara pengejar itu." ucap pengawal tersebut yang rupanya kenalan Ki Rakai Juanda.

"Alit Anggaspati, sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa kamu sepertinya terluka dalam, dan siapa yang mengejar kalian?" tanya Ki Rakai Juanda kepada pengawal yang rupanya adalah Alit Anggaspati sahabatnya ketika masa muda dahulu.

"Jangan banyak tanya, semua kejadian yang kau ketahui hari ini wajib kau selidiki sendiri nantinya, sekarang sudah tidak ada waktu lagi. Kalau kau masih mau ku anggap sahabatku, tolong segera kau bawa pangeran pergi dari sini. Cepat!!" bentak Alit Anggaspati.

 "Baiklah..Aku pergi, jaga dirimu baik-baik." Ucap Ki Rakai Juanda seraya membopong pangeran naufal yang rupanya sudah ditotok oleh sahabatnya tersebut.

Sepeninggal Ki Rakai Juanda, pengawal tersebut berbalik ke arah semula, ia berpikir untuk sebisa mungkin menghalangi pengejar bertopeng tadi. Namun tentu saja nyawanya tidak dapat terselamatkan, karena itu ketika rombongan dari istana yang melakukan pencarian hanya menemukan tubuhnya sudah tidak bernyawa di pintu keluar hutan Guama.

Berhasilkah Ki Rakai Juanda menyelamatkan pangeran kecil?

Tidak ada komentar: