"Mohon baginda beserta rombongan menunggu, sebentar lagi guruku akan menuju kemari. Maaf bila hanya seperti inilah tempat yang bisa kami persiapkan. Silahkan duduk dan mengaso sejenak." ucap pertapa penerima tamu.
"Terima kasih bapak pertapa, badan kami sudah lumayan penat. Tempat mengaso yang tenang seperti ini justru kebutuhan yang sangat tepat untuk kami saat ini." Sahut sang raja basa-basi.
"Jangan sungkan baginda, hamba mohon diri terlebih dahulu." ujar pertapa penerima tamu.
"Ohh..Silahkan" jawab sang raja seraya mengambil posisi duduk, karena walau ucapan sebelumnya rada sedikit basa-basi tetapi soal badan yang capai rupanya seriusan dan bukan maen-maen.
Tanpa disuruh Ratu Zaskia dan yang lain pun mengambil posisi duduk masing-masing, baru beberapa saat mereka semua duduk tiba-tiba Hakan Yuki berkata, "Sepertinya tempat duduk yang ku singgahi sedikit luar biasa, baru sejenak duduk terasa sekali badan menjadi sangat segar dan bersemangat. Letih yang pada awalnya terasa menjadi hilang sama sekali."
"Hal yang sama juga ku rasakan." ucap Raja Ranggapati yang selanjutnya diiyakan oleh yang lainnya.
"Selamat datang di tempatku yang buruk Raja Ranggapati, Ratu Zaskia, dan juga Menteri Hakan." Tiba-tiba terdengar sepatah kata sambutan, dan seperti sulap mendadak muncul seorang tua di tengah-tengah mereka.
"Tempatku yang sunyi jauh dari keramaian ternyata dapat berkah besar hingga sampai mendapat kunjungan dari seorang raja seperti Anda, sungguh benar-benar sebuah penghormatan yang berlebihan." ujar pertapa tua tadi melanjutkan kata sambutannya tadi.
"Justru kami yang merasa sangat beruntung, hingga dapat mampir ke tempat yang luar biasa seperti ini. Mohon tanya nama pertapa yang mulia?" sambut sang raja.
"Panggil saja aku Mpu Candika." ujar pertapa tersebut.
"Tidak jauh dibagian sebelah barat ada pondokkan yang sudah disediakan oleh muridku Sandiga, silahkan kiranya para prajurit Yang Mulia dipersilahkan untuk mengaso di sana." tambah Mpu Candika.
"Baik Mpu." Jawab Raja Ranggapati seraya memerintahkan kepada Suketi dan Jampang untuk memimpin prajurit mengikuti Ki Sandiga yang sudah muncul untuk menunjukkan jalan.
Setelah para prajurit pergi dan hanya menyisakan Raja, Ratu, Mentri Hakan dan sang pertapa. Kemudian berceritalah Raja Ranggapati mengenai kekacauan yang terjadi di kerajaan Gigantara, hingga akhirnya mereka bisa sampai ke tempat ini mengikuti anjuran dari Ki Raskapadena.
"Begitulah ceritanya Mpu, mohon kiranya kami diberi petunjuk." Kata Raja Ranggapati mengakhiri ceritanya.
"Keserakahan.. Semua ini terjadi karena keserakahan, akibat manusia yang tidak mau untuk puas dan tidak mau mengerti akan batas diri. Namun, mungkin ini juga karena kesalahanku." Ucap Mpu Candika.
"Maksud Mpu Candika?" tanya Raja Ranggapati meminta penjelasan.
"Dengarkan sedikit ceritaku ini." Jawab Mpu candika seraya bercerita.
Dahulu terdapatlah 3 orang pendekar dari seorang guru yang sama. Mereka adalah Sula Waskira, Sula Waskita, dan Sula Wardika. Guru mereka sangatlah sakti mandraguna, mahir dalam menggunakan semua senjata, sihir, dan luas pengetahuannya. Sayangnya sesakti apapun manusia itu pasti suatu saat akan mengalami apa yang dinamakan kematian. Walaupun seluruh kedigdayaan sang guru belum sempat diwariskan seluruhnya kepada ketiga muridnya, tetapi sang guru masih sempat meninggalkan lima buah kitab yang isinya tentu saja ilmu silat, sihir, dan segala pengetahuan yang dimilikinya. Selain itupun sebelum wafat sang guru pernah berpesan kepada muridnya, bahwa Raja yang memimpin Kerajaan Indiga saat ini adalah seorang raja yang kurang berpihak kepada rakyat. Sang guru meminta mereka untuk membantu rakyat bila mereka ada kesulitan. Tentu saja permintaan sang guru sangat diperhatikan oleh ketiga muridnya, sedangkan kelima kitab tersebut dipersembahkan sang guru kepada muridnya yang paling tua, yaitu Sula Waskira untuk selanjutnya dipelajari bersama dengan adik-adik seperguruannya.
Setelah guru mereka wafat, ketiga murid tersebut selama 5 tahun tetap berada di gunung mempelajari ilmu peninggalan sang guru lewat lima kitab tersebut. Sebenarnya isi kitab tersebut sangatlah mendalam, jangankan 5 tahun untuk dipelajari, bahkan mungkin selama 20 tahun pun mereka bertiga belum tentu sanggup untuk selesai mempelajari seluruh ilmu peninggalan dari sang guru. Mereka harus berhenti mempelajari kelima kitab tersebut karena Sula Wardika orang termuda dari mereka mengingatkan mereka pada ucapan terakhir dari guru mereka untuk membantu rakyat dari kerajaan Indiga. Sula Wardika mengatakan bahwa sudah terlalu lama mereka berada di gunung, ditakutkan kesengsaraan rakyat semakin menjadi, selain itu walaupun belum dapat dikatakan tamat belajar tetapi bekal mereka saat ini sudah termasuk jarang ada tandingannya di dunia persilatan saat ini. Walaupun mereka belum pernah bertempur dengan siapapun selama ini, tetapi kedahsyatan ilmu peninggalan guru mereka benar-benar membuat mereka sangat percaya diri.
Setelah beberapa malam mereka berembuk akhirnya diputuskan bahwa Sula Waskita dan Sula Wardika yang akan turun gunung terlebih dahulu, dan direncanakan pada tahun berikutnya mereka harus kembali ke gunung untuk membicarakan segala sesuatunya dengan Sula Waskira sang kakak seperguruan yang akan menjaga pusara sang guru sekaligus terus mendalami ilmu peninggalan guru mereka. Dan pada beberapa hari berikutnya berangkatlah Sula Waskita dan Sula Wardika turun gunung.
Sula Waskita dan Sula Wardika mencari kabar tentang keadaan rakyat Kerajaan Indiga, ternyata mereka mendapati kehidupan rakyat yang jauh dari sejahtera, bahkan sering terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Ki Ageng Tunggapaksi, yang mana dahulu ia adalah seorang panglima dari kerajaan Indiga. Dikarenakan tidak setuju pada kebijakan-kebijakan sang raja yang banyak tidak memihak rakyat, sehingga ia mempelopori gerakan pemberontakan pada kerajaan.
Pemberontakan dari Ki Ageng Tunggapaksi sudah berlangsung hampir dua tahun lamanya, mereka selalu merongrong pemerintah. Namun, demi menghimpun kekuatan untuk memberontak, Ki Ageng Tunggapaksi selain menyatukan anak buahnya yang tetap setia, ia juga mengumpulkan sukarelawan dari berbagai daerah. Dan sayangnya sebagian besar dari sukarelawan yang terhimpun kebanyakan berasal dari kaum bandit, perampok, begal, dan banyak tokoh dari golongan hitam. Sebagian dari mereka tentu saja bermaksud mengail di air keruh, dan juga ada yang bermimpi seandainya pemberontakan mereka berhasil tentu saja mereka mengharapkan imbal jasa berupa harta dan kedudukan. Hanya sebagian kecil saja yang benar-benar berniat memperjuangkan nasib rakyat kecil. Pada awalnya hal semacam itu sering jadi kekhawatiran dari sang pelopor, namun setelah dipikir ulang sepertinya mereka dapat dijadikan pion pembuka jalan ketika terjadi pertempuran dengan pihak kerajaan, seandainya pihak pemberontak kalah pun yang ia korbankan adalah sebagian besar bekas penjahat. Janji tentang imbal jasa bisa dipikirkan nanti seandainya usaha mereka bersama ini mencapai kesuksesan. Padahal bentuk kerjasama yang tidak dilandasi ketulusan, kesetiaan dan juga komitmen pada tujuan yang baik tentu saja sangat jarang sekali menghasilkan sebuah kebaikan. Seandainya tujuan tercapai pun dijamin pasti banyak terjadi ketimpangan, karena landasan terbentuknya kerja sama pada awalnya hanyalah saling memanfaatkan pihak lain, tanpa mau rugi pada diri sendiri.
Begitulah selanjutnya pun diadakan perkenalan lewat adu bela diri disebuah tanah lapang di dalam Hutan Jagoi Babang. Sebagai orang yang termuda di antara mereka berdua, Sula Wardika meminta izin kepada kakak seperguruannya agar ia saja yang maju untuk menunjukkan kemampuan mereka. Memang Sula Wardika semenjak turun gunung sudah gatel untuk mencoba sampai mana kehebatan ilmu mereka sendiri. Sula Waskita pun mengiyakan dan berpesan sebisa mungkin jangan melukai siapa pun, keberadaan mereka di sini ingin berjuang bersama, bukan untuk mencari musuh dan unjuk kebolehan semata.
Dan majulah Sula Wardika berhadapan dengan seseorang bernama Hadingga, dulunya adalah seorang begal besar yang bersenjata dua kampak di tangan kiri dan kanan. Tanpa basa-basi lagi sang begal langsung membuka serangan. Ia melompat dan membacok dari atas dengan kedua kampaknya bergantian. Serangan pembukaan pun Hadingga sudah menggunakan bacokan yang sangat mematikan, sungguh-sungguh tidak tepat bila pertarungan ini cuma dianggap ajang perkenalan belaka. Menghadapi serangan itu Sula Wardika menggeser badannya ke kanan beberapa tindak, namun ternyata Hadingga yang mempunyai postur tubuh tinggi besar memiliki ilmu meringankan tubuh yang lumayan bagus, karena belum setengah jalan pukulan kapaknya ia sudah mampu merubah arah serangan mengikuti pergerakan tubuh Sula Wardika.
Awalnya Sula Wardika cukup terkejut dan ia sadar musuhnya cukup berisi, namun sekali lagi ia sangat percaya pada ilmu Langkah sakti Mendaki Langit peninggalan gurunya. Ia bergeser ke belakang tapi kali ini disertai juga dengan sebuah serangan balasan. Ia mengeluarkan pukulan Rayuan pulau kelapa, sebuah pukulan yang terlihat seperti melambaikan tangan mengusir penat di siang hari, tetapi dampaknya pada Hadingga sungguh mengejutkan. Hadingga yang pada serangannya sedang berada diposisi melompat, tiba-tiba terdorong sejauh lima tindak dan akhirnya harus bergulingan di tanah. Hadingga mendengus gusar dan melompat bangun, sekali ini dia terdiam sejenak untuk lebih memperhatikan posisi dan sikap dari Sula Wardika, rupanya ia tidak mau bertindak ceroboh yang dapat membuatnya menderita kerugian lagi.
Diawali dengan teriakan membahana Hadingga mengirimkan serangan berupa bacokan silang menyilang, sekaligus ia menyerang dengan 12 bacokan beruntun dengan jurus andalannya Menghancur Langit Prahara di Bumi, kombinasi dari teriakan pendongkrak tenaga dalam, dilanjutkan 12 bacokan yang sambung menyambung selanjutnya dilanjutkan dengan gerakan tubuh yang mirip angin puting beliung dilancarkan sekaligus. Sungguh sebuah kombinasi serangan yang sangat hebat, namun ternyata tidak cukup hebat untuk menaklukkan Langkah Sakti mendaki Langit milik Sula Wardika. Tidak ada satupun serangan yang dapat mengenai sasaran, namun Sula Wardika sangat terkejut karena untuk menghindari semua serangan tadi, ia harus mengerahkan ilmu Langkah Saktinya hingga tingkat ke lima dari delapan tingkatan langkah sakti yang ada, sedangkan ia baru menguasai hingga tingkat ke enam. Seandainya serangan beruntun dari Hadingga masih berlanjut dengan serangan yang lebih ganas entah apa yang bakal terjadi.
Berdasarkan gebrakan tadi maka Sula Wardika berinisiatif untuk menyerang. Ia tingkatkan Langkah Sakti hingga tingkatan enam untuk mendekati Hadingga, begitu dekat dengan jurus Menempel Menguasai Gerak ia berusaha mendominasi pergerakan. Ia sadar dengan posisi jarak dekat lebih mempersulit Hadingga yang bersenjatakan sepasang kapak untuk mengembangkan serangan-serangan mautnya. Dan begitulah selanjutnya, kemanapun tubuh Hadingga bergerak seakan itu adalah arahan dari Sula Wardika. Tentu saja hal ini sangat membuat Hadingga geram, namun apa daya ilmu meringankan tubuhnya masih di bawah lawan, dan juga ia merasakan tubuhnya lengket dengan arah gerak dari tubuh dan tangan Sula Wardika, sehingga untuk beberapa lama pergerakan tubuhnya benar-benar seperti di dikte oleh Sula Wardika.
Para pejuang yang ikut menonton uji coba ini pun sampai terheran-heran dan berdecak kagum dengan kemampuan Sula Wardika, karena mereka semua cukup tau kehebatan dari Hadingga. Jarang musuh yang mampu bertahan dari jurus Prahara Penghancur Langitnya, namun kali ini bukan saja musuh dapat bertahan bahkan kini sudah di atas angin dan malah dapat mempermainkan Hadingga.
Setelah beberapa jurus selalu saja Hadingga menemui jalan buntu untuk keluar dari tekanan dan dominasi Sula Wardika, maka sadarlah Hadingga bahwa ia sudah kalah, untuk mempertahankan malu yang lebih-lebih besar sepertinya ia harus menguatkan diri untuk melambaikan bendera putih tanda menyerah, dan akhirnya ia pun berteriak, "Saudara, mohon berhenti aku mengaku kalah saja. Ilmu saudara benar-benar hebat." Ucap Hadingga sambil tentunya menahan rasa malu ia melompat beberapa tindak ke belakang.
"Terima kasih kakang Hadingga sudi mengalah kepadaku." Jawab Sula Wardika.
Hadingga pun hanya mengangguk seraya menyingkir kembali ke tempatnya semula, menutupi kemaluannya yang telah tercoreng. Padahal selama ini Hadingga termasuk menjadi orang penting di dalam kelompok para pemberontak, diantara ratusan orang mungkin tidak sampai tiga orang yang mampu mengatasi kesaktiannya. Tapi ternyata belum sampai genap lima puluh jurus ia sudah harus menyerah kalah.
Baru saja Hadingga berlalu, tiba-tiba ditengah gelanggang muncul seorang setengah tua, berbadan gemuk dan tergolong dalam kategori pendek walaupun belum bisa disebut orang cebol tetapi kalo berharap mau daftar jadi anggota kepolisian dijamin bakal tidak lulus, dijamin 100%.
Kemunculannya yang sangat ajaib seperti bukan sulap bukan sihir membuktikan kemampuan peringan tubuhnya sangatlah tinggi. Sepertinya orang pendek ini bisa mengimbangi Langkah Sakti mendaki Langit milik Sula Wardika. Orang ini dikenal dengan sebutan Watu Cagur, dulunya murid seorang pertapa sakti dari lulusan negeri seberang. Konon pertemuan Watu Cagur saat ia masih muda dengan gurunya hanya berlangsung sebulan saja, tapi ternyata yang pada awalnya Watu Cagur hanya memiliki ilmu kanuragan yang biasa saja, begitu mendapat bimbingan sang pertapa dari seberang hanya dalam sebulan saja Watu Cagur sudah memiliki banyak kesaktian yang hebat-hebat. Privat kilat yang patut dibilang sukses besar.
Watu Cagur terkenal sebagai seorang yang hobi berkelahi, walaupun tidak termasuk ke dalam golongan hitam namun karena hobinya itulah sehingga Watu Cagur memiliki musuh yang tidak sedikit di dalam rimba persilatan. Di pihak para pejuang kedudukan Watu Cagur termasuk setara dengan Ki Anggana, namun berhubung dengan hobinya tadi maka tanpa malu akan kedudukan sendiri ia sudah maju menantang Sula Wardika bertarung.
Setelah berbasa-basi sedikit saling memperkenalkan nama dan alamat, selanjutnya Watu Cagur membuka serangan lewat jurus Sapta Ludra, sebuah serangan tangan kosong yang kelihatannya dikeluarkan dengan biasa saja dan tidak terlihat perbawa yang sangat hebat, tapi hal tersebut tidak dapat disepakati oleh Sula Wardika sendiri sebagai pihak yang diserang.
Karena jurus Sapta Ludra sendiri adalah sebuah jurus yang sangat mengandalkan kecepatan gerak, bagi pandangan Sula Wardika serangan datang dari tujuh arah yang berbeda, beruntung Sula Wardika sudah tanggap bahwa musuhnya kali ini sangat berbeda dengan Hadingga tadi. Ia kembangkan kemampuan ilmu peringan tubuhnya hingga tingkat yang ia sanggup, mata dan telinga pada keadaan waspada tingkat tinggi.
"Adi Wardika, Kakang Watu Cagur mohon hentikan sejenak adu tanding ini." Tiba-tiba Sula Waskita membuka suara. Suaranya sangat membahana hingga mendapat seluruh perhatian dari para penonton, dan tentu saja dapat menghentikan jalan pertandingan yang baru saja dimulai. Sebuah pameran tenaga dalam yang sangat hebat dan mengejutkan, sampai-sampai ada salah seorang dari penonton yang tiba-tiba merasakan dadanya sakit karena sakit jantungnya kambuh.
"Mohon maaf pada Kakang Watu Cagur, bagaimana kalau pada kesempatan adu tanding yang kedua ini biarkan saya yang mencoba untuk menghadapi Kakang Watu Cagur. Biarlah Adi Wardika istirahat sejenak, mungkin dia sudah lelah." Lanjut Sula Waskita.
Rupanya melihat serangan pembukaan dari Watu Cagur tadi kemungkinan Sula Waskita jadi tertarik untuk mencoba-coba, atau mungkin karena takut adik seperguruannya tidak sanggup menghadapi Watu Cagur. Entahlah yang jelas itu semua masih jadi rahasia hati dari Sula Waskita sendiri.
Sebenarnya Sula Wardika masih merasa sanggup dan sangat ingin meladeni Watu Cagur, namun sebagai orang yang lebih muda tentunya ia harus mematuhi perkataan seniornya.
"Mungkin pada kesempatan yang lain aku akan menunjukkan kebodahanku pada kakang Watu Cagur". ujar Sula Wardika seraya menyingkir memberi ruang pada sang kakak.
Setelah saling berhadapan untuk beberapa saat mereka hanya saling bertatapan, seolah mengukur tinggi ilmu lawannya lewat padangan mata. Watu Cagur berpikir kalau musuhnya kali ini walaupun secara harus tetapi jelas berani menantangnya setelah melihat ia mengeluarkan kesaktian yang cukup menggetarkan, namun ternyata dengan berani dan sangat percaya diri sanggup meladeninya untuk saling pelotot-pelototan untuk beberapa saat. Tentu ia kali ini tidak bisa sembrono untuk langsung melabrak seperti tadi, namun karena memang pada dasarnya semenjak kecilnya dulu belum pernah diajarkan ortunya tuk melatih kesabaran akhirnya ia mulai menyerang, tetap dengan jurus yang sama Sapta Ludra ia ingin melihat reaksi lawannya.
Dari tujuh penjuru bertubi-tubi datang serangan tanpa henti, namun dengan ilmu Langkah Sakti mendaki Langit tingkat ke delapan semua dapat diatasi dengan baik. Diantara tiga saudara perguruan Sula Waskita adalah yang paling cerdas, selain Langkah Sakti mendaki Langit iapun menghimpun ilmu kebal Tameng Suket untuk membentengi dirinya dari setiap serangan. Tameng Suket yang ia latih belum termasuk sempurna, tetapi untuk menghadapi serangan Watu Cagur yang masih separuh hati dan separuh tenaga rupanya cukup berlebihan.
Melihat setiap serangan dapat dihindari dan juga angin serangannya yang melintas hanya beberapa jari dari tubuh lawan sepertinya sangat tidak menghasilkan sesuatu apapun, Watu cagur bukannya terkejut namun ia justru sangat senang. Akhirnya ia menemukan lawan yang sepadan, lawan yang dapat diuji dengan seluruh kesaktian yang ia punya. Mulailah ia menggunakan seluruh tenaga dan meningkatkan kecepatan serangan hingga batas yang ia sanggupi.
