Sabtu, 20 Oktober 2012

IV Awal dari Sengketa

Mereka semua diantarkan ke sebuah ruangan yang cukup lebar, yang sepertinya adalah ruang tamu walaupun hanya terdapat tempat duduk beralaskan jerami.

"Mohon baginda beserta rombongan menunggu, sebentar lagi guruku akan menuju kemari. Maaf bila hanya seperti inilah tempat yang bisa kami persiapkan. Silahkan duduk dan mengaso sejenak." ucap pertapa penerima tamu.

"Terima kasih bapak pertapa, badan kami sudah lumayan penat. Tempat mengaso yang tenang seperti ini justru kebutuhan yang sangat tepat untuk kami saat ini." Sahut sang raja basa-basi.

"Jangan sungkan baginda, hamba mohon diri terlebih dahulu." ujar pertapa penerima tamu.

"Ohh..Silahkan" jawab sang raja seraya mengambil posisi duduk, karena walau ucapan sebelumnya rada sedikit basa-basi tetapi soal badan yang capai rupanya seriusan dan bukan maen-maen.

Tanpa disuruh Ratu Zaskia dan yang lain pun mengambil posisi duduk masing-masing, baru beberapa saat mereka semua duduk tiba-tiba Hakan Yuki berkata, "Sepertinya tempat duduk yang ku singgahi sedikit luar biasa, baru sejenak duduk terasa sekali badan menjadi sangat segar dan bersemangat. Letih yang pada awalnya terasa menjadi hilang sama sekali."

"Hal yang sama juga ku rasakan." ucap Raja Ranggapati yang selanjutnya diiyakan oleh yang lainnya.

"Selamat datang di tempatku yang buruk Raja Ranggapati, Ratu Zaskia, dan juga Menteri Hakan." Tiba-tiba terdengar sepatah kata sambutan, dan seperti sulap mendadak muncul seorang tua di tengah-tengah mereka.

"Tempatku yang sunyi jauh dari keramaian ternyata dapat berkah besar hingga sampai mendapat kunjungan dari seorang raja seperti Anda, sungguh benar-benar sebuah penghormatan yang berlebihan." ujar pertapa tua tadi melanjutkan kata sambutannya tadi.

"Justru kami yang merasa sangat beruntung, hingga dapat mampir ke tempat yang luar biasa seperti ini. Mohon tanya nama pertapa yang mulia?" sambut sang raja.

"Panggil saja aku Mpu Candika." ujar pertapa tersebut.

"Tidak jauh dibagian sebelah barat ada pondokkan yang sudah disediakan oleh muridku Sandiga, silahkan kiranya para prajurit Yang Mulia dipersilahkan untuk mengaso di sana." tambah Mpu Candika.

"Baik Mpu." Jawab Raja Ranggapati seraya memerintahkan kepada Suketi dan Jampang untuk memimpin prajurit mengikuti Ki Sandiga yang sudah muncul untuk menunjukkan jalan.

Setelah para prajurit pergi dan hanya menyisakan Raja, Ratu, Mentri Hakan dan sang pertapa. Kemudian berceritalah Raja Ranggapati mengenai kekacauan yang terjadi di kerajaan Gigantara, hingga akhirnya mereka bisa sampai ke tempat ini mengikuti anjuran dari Ki Raskapadena.

"Begitulah ceritanya Mpu, mohon kiranya kami diberi petunjuk." Kata Raja Ranggapati mengakhiri ceritanya.

"Keserakahan.. Semua ini terjadi karena keserakahan, akibat manusia yang tidak mau untuk puas dan tidak mau mengerti akan batas diri. Namun, mungkin ini juga karena kesalahanku." Ucap Mpu Candika.

"Maksud Mpu Candika?" tanya Raja Ranggapati meminta penjelasan.

"Dengarkan sedikit ceritaku ini." Jawab Mpu candika seraya bercerita.

Dahulu terdapatlah 3 orang pendekar dari seorang guru yang sama. Mereka adalah Sula Waskira, Sula Waskita, dan Sula Wardika. Guru mereka sangatlah sakti mandraguna, mahir dalam menggunakan semua senjata, sihir, dan luas pengetahuannya. Sayangnya sesakti apapun manusia itu pasti suatu saat akan mengalami apa yang dinamakan kematian. Walaupun seluruh kedigdayaan sang guru belum sempat diwariskan seluruhnya kepada ketiga muridnya, tetapi sang guru masih sempat meninggalkan lima buah kitab yang isinya tentu saja ilmu silat, sihir, dan segala pengetahuan yang dimilikinya. Selain itupun sebelum wafat sang guru pernah berpesan kepada muridnya, bahwa Raja yang memimpin Kerajaan Indiga saat ini adalah seorang raja yang kurang berpihak kepada rakyat. Sang guru meminta mereka untuk membantu rakyat bila mereka ada kesulitan. Tentu saja permintaan sang guru sangat diperhatikan oleh ketiga muridnya, sedangkan kelima kitab tersebut dipersembahkan sang guru kepada muridnya yang paling tua, yaitu Sula Waskira untuk selanjutnya dipelajari bersama dengan adik-adik seperguruannya.

Setelah guru mereka wafat, ketiga murid tersebut selama 5 tahun tetap berada di gunung mempelajari ilmu peninggalan sang guru lewat lima kitab tersebut. Sebenarnya isi kitab tersebut sangatlah mendalam, jangankan 5 tahun untuk dipelajari, bahkan mungkin selama 20 tahun pun mereka bertiga belum tentu sanggup untuk selesai mempelajari seluruh ilmu peninggalan dari sang guru. Mereka harus berhenti mempelajari kelima kitab tersebut karena Sula Wardika orang termuda dari mereka mengingatkan mereka pada ucapan terakhir dari guru mereka untuk membantu rakyat dari kerajaan Indiga. Sula Wardika mengatakan bahwa sudah terlalu lama mereka berada di gunung, ditakutkan kesengsaraan rakyat semakin menjadi, selain itu walaupun belum dapat dikatakan tamat belajar tetapi bekal mereka saat ini sudah termasuk jarang ada tandingannya di dunia persilatan saat ini. Walaupun mereka belum pernah bertempur dengan siapapun selama ini, tetapi kedahsyatan ilmu peninggalan guru mereka benar-benar membuat mereka sangat percaya diri.

Setelah beberapa malam mereka berembuk akhirnya diputuskan bahwa Sula Waskita dan Sula Wardika yang akan turun gunung terlebih dahulu, dan direncanakan pada tahun berikutnya mereka harus kembali ke gunung untuk membicarakan segala sesuatunya dengan Sula Waskira sang kakak seperguruan yang akan menjaga pusara sang guru sekaligus terus mendalami ilmu peninggalan guru mereka. Dan pada beberapa hari berikutnya berangkatlah Sula Waskita dan Sula Wardika turun gunung.


Sula Waskita dan Sula Wardika mencari kabar tentang keadaan rakyat Kerajaan Indiga, ternyata mereka mendapati kehidupan rakyat yang jauh dari sejahtera, bahkan sering terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Ki Ageng Tunggapaksi, yang mana dahulu ia adalah seorang panglima dari kerajaan Indiga. Dikarenakan tidak setuju pada kebijakan-kebijakan sang raja yang banyak tidak memihak rakyat, sehingga ia mempelopori gerakan pemberontakan pada kerajaan.

Pemberontakan dari Ki Ageng Tunggapaksi sudah berlangsung hampir dua tahun lamanya, mereka selalu merongrong pemerintah. Namun, demi menghimpun kekuatan untuk memberontak, Ki Ageng Tunggapaksi selain menyatukan anak buahnya yang tetap setia, ia juga mengumpulkan sukarelawan dari berbagai daerah. Dan sayangnya sebagian besar dari sukarelawan yang terhimpun kebanyakan berasal dari kaum bandit, perampok, begal, dan banyak tokoh dari golongan hitam. Sebagian dari mereka tentu saja bermaksud mengail di air keruh, dan juga ada yang bermimpi seandainya pemberontakan mereka berhasil tentu saja mereka mengharapkan imbal jasa berupa harta dan kedudukan. Hanya sebagian kecil saja yang benar-benar berniat memperjuangkan nasib rakyat kecil. Pada awalnya hal semacam itu sering jadi kekhawatiran dari sang pelopor, namun setelah dipikir ulang sepertinya mereka dapat dijadikan pion pembuka jalan ketika terjadi pertempuran dengan pihak kerajaan, seandainya pihak pemberontak kalah pun yang ia korbankan adalah sebagian besar bekas penjahat. Janji tentang imbal jasa bisa dipikirkan nanti seandainya usaha mereka bersama ini mencapai kesuksesan. Padahal bentuk kerjasama yang tidak dilandasi ketulusan, kesetiaan dan juga komitmen pada tujuan yang baik tentu saja sangat jarang sekali menghasilkan sebuah kebaikan. Seandainya tujuan tercapai pun dijamin pasti banyak terjadi ketimpangan, karena landasan terbentuknya kerja sama pada awalnya hanyalah saling memanfaatkan pihak lain, tanpa mau rugi pada diri sendiri.

Setelah cukup mengetahui tentang situasi yang ada saat itu, maka Sula Waskita dan Sula Wardika bersepakat untuk bergabung dengan pihak pejuang yang dibawahi Ki Ageng Tunggapaksi. Mereka berdua langsung menuju Hutan Jagoi Babang, salah satu markas sementara para pejuang. Sampai disana mereka disambut oleh Ki Anggana, tangan kanan dari  Ki Ageng Tunggapaksi. Setelah berbincang-bincang sebentar Ki Anggana pun mengajak mereka berdua untuk diperkenalkan dengan para pejuang lain yang sudah bergabung terlebih dahulu. Sambil berjalan Ki Anggana sudah menceritakan bahwa setiap menerima pejuang baru yang sekiranya mempunyai kemampuan lebih, maka mereka selalu mengadakan perkenalan lewat adu ilmu bela diri. Selain untuk media perkenalan hal itupun sengaja dilakukan untuk mengetahui kemampuan tiap-tiap pejuang. Karena dengan mengetahui kemampuan tiap-tiap orang yang ada di bawahnya tentu saja akan memperlancar dan mempermudah pembagian tugas. Ki Ageng Tunggapaksi berpedoman Kenalilah musuhmu, kenalilah diri sendiri. Maka kau bisa berjuang dalam 100 pertempuran tanpa resiko kalah. Kenali Bumi, kenali Langit, dan kemenanganmu akan menjadi lengkap. Setelah mengerti kondisi pihak sendiri, maka ia bisa menyesuaikan taktik apa yang dapat dipergunakan.

Begitulah selanjutnya pun diadakan  perkenalan lewat adu bela diri disebuah tanah lapang di dalam Hutan Jagoi Babang. Sebagai orang yang termuda di antara mereka berdua, Sula Wardika meminta izin kepada kakak seperguruannya agar ia saja yang maju untuk menunjukkan kemampuan mereka. Memang Sula Wardika semenjak turun gunung sudah gatel untuk mencoba sampai mana kehebatan ilmu mereka sendiri. Sula Waskita pun mengiyakan dan berpesan sebisa mungkin jangan melukai siapa pun, keberadaan mereka di sini ingin berjuang bersama, bukan untuk mencari musuh dan unjuk kebolehan semata.

Dan majulah Sula Wardika berhadapan dengan seseorang bernama Hadingga, dulunya adalah seorang begal besar yang bersenjata dua kampak di tangan kiri dan kanan. Tanpa basa-basi lagi sang begal langsung membuka serangan. Ia melompat dan membacok dari atas dengan kedua kampaknya bergantian. Serangan pembukaan pun Hadingga sudah menggunakan bacokan yang sangat mematikan, sungguh-sungguh tidak tepat bila pertarungan ini cuma dianggap ajang perkenalan belaka. Menghadapi serangan itu Sula Wardika menggeser badannya ke kanan beberapa tindak, namun ternyata Hadingga yang mempunyai postur tubuh tinggi besar memiliki ilmu meringankan tubuh yang lumayan bagus, karena belum setengah jalan pukulan kapaknya ia sudah mampu merubah arah serangan mengikuti pergerakan tubuh Sula Wardika.

Awalnya Sula Wardika cukup terkejut dan ia sadar musuhnya cukup berisi, namun sekali lagi ia sangat percaya pada ilmu Langkah sakti Mendaki Langit peninggalan gurunya. Ia bergeser ke belakang tapi kali ini disertai juga dengan sebuah serangan balasan. Ia mengeluarkan pukulan Rayuan pulau kelapa, sebuah pukulan yang terlihat seperti melambaikan tangan mengusir penat di siang hari, tetapi dampaknya pada Hadingga sungguh mengejutkan. Hadingga yang pada serangannya sedang berada diposisi melompat, tiba-tiba terdorong sejauh lima tindak dan akhirnya harus bergulingan di tanah. Hadingga mendengus gusar dan melompat bangun, sekali ini dia terdiam sejenak untuk lebih memperhatikan posisi dan sikap dari Sula Wardika, rupanya ia tidak mau bertindak ceroboh yang dapat membuatnya menderita kerugian lagi.

Diawali dengan teriakan membahana Hadingga mengirimkan serangan berupa bacokan silang menyilang, sekaligus ia menyerang dengan 12 bacokan beruntun dengan jurus andalannya Menghancur Langit Prahara di Bumi, kombinasi dari teriakan pendongkrak tenaga dalam, dilanjutkan 12 bacokan yang sambung menyambung selanjutnya dilanjutkan dengan gerakan tubuh yang mirip angin puting beliung dilancarkan sekaligus. Sungguh sebuah kombinasi serangan yang sangat hebat, namun ternyata tidak cukup hebat untuk menaklukkan Langkah Sakti mendaki Langit milik Sula Wardika. Tidak ada satupun serangan yang dapat mengenai sasaran, namun Sula Wardika sangat terkejut karena untuk menghindari semua serangan tadi, ia harus mengerahkan ilmu Langkah Saktinya hingga tingkat ke lima dari delapan tingkatan langkah sakti yang ada, sedangkan ia baru menguasai hingga tingkat ke enam. Seandainya serangan beruntun dari Hadingga masih berlanjut dengan serangan yang lebih ganas entah apa yang bakal terjadi.

Berdasarkan gebrakan tadi maka Sula Wardika berinisiatif untuk menyerang. Ia tingkatkan Langkah Sakti hingga tingkatan enam untuk mendekati Hadingga, begitu dekat dengan jurus Menempel Menguasai Gerak ia berusaha mendominasi pergerakan. Ia sadar dengan posisi jarak dekat lebih mempersulit Hadingga yang bersenjatakan sepasang kapak untuk mengembangkan serangan-serangan mautnya. Dan begitulah selanjutnya, kemanapun tubuh Hadingga bergerak seakan itu adalah arahan dari Sula Wardika. Tentu saja hal ini sangat membuat Hadingga geram, namun apa daya ilmu meringankan tubuhnya masih di bawah lawan, dan juga ia merasakan tubuhnya lengket dengan arah gerak dari tubuh dan tangan Sula Wardika, sehingga untuk beberapa lama pergerakan tubuhnya benar-benar seperti di dikte oleh Sula Wardika.

Para pejuang yang ikut menonton uji coba ini pun sampai terheran-heran dan berdecak kagum dengan kemampuan Sula Wardika, karena mereka semua cukup tau kehebatan dari Hadingga. Jarang musuh yang mampu bertahan dari jurus Prahara Penghancur Langitnya, namun kali ini bukan saja musuh dapat bertahan bahkan kini sudah di atas angin dan malah dapat mempermainkan Hadingga.

Setelah beberapa jurus selalu saja Hadingga menemui jalan buntu untuk keluar dari tekanan dan dominasi Sula Wardika, maka sadarlah Hadingga bahwa ia sudah kalah, untuk mempertahankan malu yang lebih-lebih besar sepertinya ia harus menguatkan diri untuk melambaikan bendera putih tanda menyerah, dan akhirnya ia pun berteriak, "Saudara, mohon berhenti aku mengaku kalah saja. Ilmu saudara benar-benar hebat." Ucap Hadingga sambil tentunya menahan rasa malu ia melompat beberapa tindak ke belakang.

"Terima kasih kakang Hadingga sudi mengalah kepadaku." Jawab Sula Wardika.

Hadingga pun hanya mengangguk seraya menyingkir kembali ke tempatnya semula, menutupi kemaluannya yang telah tercoreng. Padahal selama ini Hadingga termasuk menjadi orang penting di dalam kelompok para pemberontak, diantara ratusan orang mungkin tidak sampai tiga orang yang mampu mengatasi kesaktiannya. Tapi ternyata belum sampai genap lima puluh jurus ia sudah harus menyerah kalah.

Baru saja Hadingga berlalu, tiba-tiba ditengah gelanggang muncul seorang setengah tua, berbadan gemuk dan tergolong dalam kategori pendek walaupun belum bisa disebut orang cebol tetapi kalo berharap mau daftar jadi anggota kepolisian dijamin bakal tidak lulus, dijamin 100%.

Kemunculannya yang sangat ajaib seperti bukan sulap bukan sihir membuktikan kemampuan peringan tubuhnya sangatlah tinggi. Sepertinya orang pendek ini bisa mengimbangi  Langkah Sakti mendaki Langit milik Sula Wardika. Orang ini dikenal dengan sebutan Watu Cagur, dulunya murid seorang pertapa sakti dari lulusan negeri seberang. Konon pertemuan Watu Cagur saat ia masih muda dengan gurunya hanya berlangsung sebulan saja, tapi ternyata yang pada awalnya Watu Cagur hanya memiliki ilmu kanuragan yang biasa saja, begitu mendapat bimbingan sang pertapa dari seberang hanya dalam sebulan saja Watu Cagur sudah memiliki banyak kesaktian yang hebat-hebat. Privat kilat yang patut dibilang sukses besar.

Watu Cagur terkenal sebagai seorang yang hobi berkelahi, walaupun tidak termasuk ke dalam golongan hitam namun karena hobinya itulah sehingga Watu Cagur memiliki musuh yang tidak sedikit di dalam rimba persilatan. Di pihak para pejuang kedudukan Watu Cagur termasuk setara dengan Ki Anggana, namun berhubung dengan hobinya tadi maka tanpa malu akan kedudukan sendiri ia sudah maju menantang Sula Wardika bertarung.

Setelah berbasa-basi sedikit saling memperkenalkan nama dan alamat, selanjutnya Watu Cagur membuka serangan lewat jurus Sapta Ludra, sebuah serangan tangan kosong yang kelihatannya dikeluarkan dengan biasa saja dan tidak terlihat perbawa yang sangat hebat, tapi hal tersebut tidak dapat disepakati oleh Sula Wardika sendiri sebagai pihak yang diserang.

Karena jurus Sapta Ludra sendiri adalah sebuah jurus yang sangat mengandalkan kecepatan gerak, bagi pandangan Sula Wardika serangan datang dari tujuh arah yang berbeda, beruntung Sula Wardika sudah tanggap bahwa musuhnya kali ini sangat berbeda dengan Hadingga tadi. Ia kembangkan kemampuan ilmu peringan tubuhnya hingga tingkat yang ia sanggup, mata dan telinga pada keadaan waspada tingkat tinggi.

"Adi Wardika, Kakang Watu Cagur mohon hentikan sejenak adu tanding ini." Tiba-tiba Sula Waskita membuka suara. Suaranya sangat membahana hingga mendapat seluruh perhatian dari para penonton, dan tentu saja dapat menghentikan jalan pertandingan yang baru saja dimulai. Sebuah pameran tenaga dalam yang sangat hebat dan mengejutkan, sampai-sampai ada salah seorang dari penonton yang tiba-tiba merasakan dadanya sakit karena sakit jantungnya kambuh.

"Mohon maaf pada Kakang Watu Cagur, bagaimana kalau pada kesempatan adu tanding yang kedua ini biarkan saya yang mencoba untuk menghadapi Kakang Watu Cagur. Biarlah Adi Wardika istirahat sejenak, mungkin dia sudah lelah." Lanjut Sula Waskita.

Rupanya melihat serangan pembukaan dari Watu Cagur tadi kemungkinan Sula Waskita jadi tertarik untuk mencoba-coba, atau mungkin karena takut adik seperguruannya tidak sanggup menghadapi Watu Cagur. Entahlah yang jelas itu semua masih jadi rahasia hati dari Sula Waskita sendiri.

Sebenarnya Sula Wardika masih merasa sanggup dan sangat ingin meladeni Watu Cagur, namun sebagai orang yang lebih muda tentunya ia harus mematuhi perkataan seniornya.

"Mungkin pada kesempatan yang lain aku akan menunjukkan kebodahanku pada kakang Watu Cagur". ujar Sula Wardika seraya menyingkir memberi ruang pada sang kakak.


Setelah saling berhadapan untuk beberapa saat mereka hanya saling bertatapan, seolah mengukur tinggi ilmu lawannya lewat padangan mata. Watu Cagur berpikir kalau musuhnya kali ini walaupun secara harus tetapi jelas berani menantangnya setelah melihat ia mengeluarkan kesaktian yang cukup menggetarkan, namun ternyata dengan berani dan sangat percaya diri sanggup meladeninya untuk saling pelotot-pelototan untuk beberapa saat. Tentu ia kali ini tidak bisa sembrono untuk langsung melabrak seperti tadi, namun karena memang pada dasarnya semenjak kecilnya dulu belum pernah diajarkan ortunya tuk melatih kesabaran akhirnya ia mulai menyerang, tetap dengan jurus yang sama Sapta Ludra ia ingin melihat reaksi lawannya.

Dari tujuh penjuru bertubi-tubi datang serangan tanpa henti, namun dengan ilmu Langkah Sakti mendaki Langit tingkat ke delapan semua dapat diatasi dengan baik. Diantara tiga saudara perguruan Sula Waskita adalah yang paling cerdas, selain Langkah Sakti mendaki Langit iapun menghimpun ilmu kebal Tameng Suket untuk membentengi dirinya dari setiap serangan. Tameng Suket yang ia latih belum termasuk sempurna, tetapi untuk menghadapi serangan Watu Cagur yang masih separuh hati dan separuh tenaga rupanya cukup berlebihan.

Melihat setiap serangan dapat dihindari dan juga angin serangannya yang melintas hanya beberapa jari dari tubuh lawan sepertinya sangat tidak menghasilkan sesuatu apapun, Watu cagur bukannya terkejut namun ia justru sangat senang. Akhirnya ia menemukan lawan yang sepadan, lawan yang dapat diuji dengan seluruh kesaktian yang ia punya. Mulailah ia menggunakan seluruh tenaga dan meningkatkan kecepatan serangan hingga batas yang ia sanggupi.


Senin, 06 Agustus 2012

BAB III Pemberontakkan terselubung


Dewi Angin telah sampai di depan istana, terlihat penjagaan di pintu gerbang istana sedikit ramai, semenjak ada berita kehilangan putri dan pangeran penjagaan semakin diperketat. Tetapi hal ini bukan suatu halangan bagi Dewi Angin, dengan sekali lonjakan saja dia telah melayang ke area pekarangan istana. Dengan kecepatan tubuhnya ia berhasil mendapat tempat untuk melihat keadaan sekitarnya. Dia seorang yang tinggi hati bila harus permisi secara baik-baik lewat pintu depan, dan menurutnya cara yang sekarang inilah yang paling tepat.

Di bagian barat pelataran istana terdapat sebuah rumah pondokan yang terlihat lebih besar dan mewah dari bangunan yang lainnya, Dewi Angin beranggapan tempat itulah yang harus ia tuju. Dengan sekejap saja dia sudah berada di atap bangunan mewah itu. Terdengar suara tangisan lirih dari seorang wanita, dan juga suara lelaki yang rupanya membujuk untuk si wanita agar bersabar dalam menghadapi cobaan.

"Semua cobaan datangnya itu dari Tuhan, tidak mungkin cobaan itu dikirim tanpa ada sebuah hikmah di dalamnya. Sebagai makhluk ciptaan-Nya kita wajib menjalani dan berupaya menghadapinya dengan semampu kita." ucap sang lelaki.

"Tapi kanda, kejadian ini terlalu mendadak. Setelah hampir dua puluh tahun kita hidup tentram, mengapa justru harus ada kejadian hari ini, kanda." ucap sang wanita dengan sedikit isak yang masih tersisa.

"Tenanglah dinda, savira dan naufal pasti akan baik-baik saja. Aku yakin mereka akan tetap selamat dan dapat secepatnya kembali ke istana kita." bujuk sang lelaki berusaha menenangkan wanita yang tampaknya adalah sang istri.

Mendengar ucapan suami istri di dalam, Dewi Angin langsung menebak bahwa mereka adalah raja dan ratu Kerajaan Gigantara yang sedang menangisi kepergian yang tidak jelas dari putra-putri mereka. Karena sudah gatal terlalu lama menunggu, maka Dewi Angin langsung saja menerebos masuk ke dalam pondokan tersebut.

Begitu berada di dalam ternyata di depan pintu dijaga oleh dua orang pengawal, yang merupakan dua orang dari regu pasukan khusus istana Gigantara.

Karena terkejut akan kehadiran seorang wanita setengah tua yang sangat tiba-tiba tanpa mereka rasakan sebelumnya, langsung saja mereka mencabut senjata mereka masing-masing. Salah seorang dari mereka membentak,

"Hei siapa kamu yang sangat lancang menerobos kedalam kediaman raja?" bentaknya sengit.

Dewi Angin lalu menjawab sambil terkekeh "Aku ini nenekmu masa baru beberapa lama tidak berjumpa kamu sudah lupa pada nenekmu ini cucuku"

"Ikikikikikikikiki" kekeh Dewi Angin meniru tawa kuntilanak kejepit.

"Hey..Wanita tua kurang ajar, jawab yang jelas apa sebabnya berani-beraninya kamu menerobos ke tempat ini?" bentak pengawal itu tadi.

"Heh..kamu ini jadi pengawal sok galak banget sih, tidak sopan kepada orang tua. Awas kalo ketemu atasanmu gwe aduin biar tahu rasa lue." Ledek sang Dewi Angin.

"Cepat beritahukan kepada raja kalian bahwa aku membwa kabar tentang putrinya yang hilang" lanjut Dewi Angin dengan ekspresi wajah yang sok serius.

Sedangkan dari dalam raja dan ratu pun sudah keluar karena semenjak tadi sebenarnya mereka sudah mendengar suara ribut-ribut di luar.

"Hei nini yang baik hati, apakah benar dirimu tahu tentang kabar keberadaan anak-anakku? Dimana mereka sekarang?" tanya raja yang baru keluar bersama sang ratu.

Sedangkan sang ratu sendiri begitu melihat Dewi Angin seperti sedikit kaget.

"Anantasita..Hei benar dirimu pasti Anantasita." ucap sang ratu Zaskia tiba-tiba.

"Ehhh...kamu siapa kok tahu namaku?" tanya Dewi Angin pula.

"Anantasita kakak ku..Mengapa kau tidak dapat mengenali adikmu sendiri?" lanjut sang ratu diselingi sebuah senyum di wajahnya.

"Ahh...kau Zaskia? Zaskia adikku? Benarkah itu kamu? Ahh..benar, kau memang Zaskia"

"Sudah bertahun-tahun aku mencarimu kemana-mana, sudah beribu-ribu alamat palsu yang ku datangi, gunung ku daki lautan ku seberangi, ternyata adikku ada di sini. Bagaimana kabarmu? Mengapa bisa sampai kemari? Sudah makan belum?" cerocos Dewi Angin tidak berhenti-henti hingga raja dan ratu serta dua pengawal untuk beberapa saat cuma bisa terbengong-bengong melihatnya.

"Cibi (kakak dalam bahasa negeri seribu dewa), aku sekarang adalah ratu di kerajaan Dirgantara, dan perkenalkan ini kakang Ranggapati Raja di kerajaan ini sekaligus suamiku yang terganteng." Ucap ratu zaskia memperkenalkan suaminya pada sang kakak.

"Hmmmm....Sudah bersuami punya anak juga, ehhh...anaknya hilang malah kalian berdua asik rayu-rayuan di sini" Kata Dewi Angin. "Bikin gwe iri aza." Lanjutnya dalam hati.

"Cibi rupanya dirimu sudah mendengarkan keluh kesahku tadi?" tanya sang ratu.

"Bukan saja sudah dengar semua tangismu yang melebihi ratapan anak tiri, tapi aku juga tahu di mana keberadaan anakmu yang perempuan." ujar Dewi Angin.

Ratu dan Raja kaget, "Apaaa???" sahut mereka kompak.
"Yang benar cibi? Dimana anakku Savira berada? Ayo katakan segera cibi!!!" tanya sang ratu tak sabar.

"Wani pirooooo...????" tanya Dewi Angin kumat tengilnya.

Ratu Zaskia gemas melihat tingkah kakaknya, "Sudahlah cibi ayo segera katakan dimana anakku berada?"

"Tenang anakkmu berada di tempat yang aman." ujar Dewi Angin seraya menceritakan kejadian beberapa saat lalu ketika ia menyelamatkan putri Savira hingga niatnya menjadikan sang putri menjadi muridnya.


"Begitulah kisahnya, kini anakmu aman bersamaku. Dan kalian tidak boleh tawar-menawar lagi denganku. Savira akan jadi muridku, dan akan ikut bersamaku sampai tamat belajar semua kesaktianku." ucap Dewi Angin.

Ratu Zaskia mengalihkan tatapannya pada sang suami seraya mengangguk. Melihat kode itu maka berkatalah Raja Ranggapati, "Baiklah mbakyu Anantasita, kami sangat bersyukur karena kau telah menyelamatkan anak perempuanku dari malapetaka. Dan mungkin memang sudah menjadi rezekinya untuk menjadi murid seorang guru yang hebat seperti dirimu ini" Ucap sang raja walaupun sebenarnya dalam hati belum sepenuhnya yakin dengan kemampuan cibinya ini.

Keraguan sang raja tentu saja dapat dirasakan oleh Dewi Angin, "Walaupun aku bukan termasuk yang paling sakti pada zaman ini, namun nama Dewi Angin ku rasa tidak terlalu buruk kan?"

Raja dan ratu sedikit tercegang oleh perkataan sang cibi, "Jadi mbakyu adalah Dewi Angin yang terkenal dengan ilmu meringankan tubuh dan termasuk sebagai pendekar wanita yang sedang tenar-tenarnya beberapa tahun belakangan ini? Wah tentu anakku Savira akan menjadi seorang pendekar wanita yang hebat pula setelah tamat belajar nanti.

"Lihat saja nanti bakal jadi seperti apa." jawab Dewi Angin dengan gaya yang sok meyakinkan.

"Sudahlah, aku sudah terlalu lama meninggalkan muridku itu di penginapan, kami tidak akan pamit lagi kemari. Setelah tamat nanti muridku itu akan kusuruh mencari kalian. Sampai jumpa." ucapan perpisahan Dewi Angin sambil memamerkan tingkat tertinggi dari ilmu meringankan tubuhnya. Suaranya belum hilang tetapi orangnya sudah lenyap entah kemana.

Raja, ratu dan dua pengawal sangat terpesona dengan pertunjukkan yang ditontonkan sang kakak.

"Dinda rupanya Savira selamat, semoga Satria juga dapat menemui keajaiban pula sehingga dapat terselamatkan." Ujar sang Raja.

"iya kanda, dengan selamatnya savira hatiku sedikit lega. Sekarang kita bisa lebih terfokus untuk mencari kabar dari Satria." ucap sang ratu.

"Pengawal beritakan kepada paman Raskapadena atau kakang Hakan Yuki bahwa putri Savira sudah selamat, dan selanjutnya pencarian lebih fokus kepada pangeran Satria saja." Perintah sang raja

"Sendika gusti" jawab dua pengawal

Pencarian hari berikutnya sangat besar-besaran, hampir separuh dari prajurit kelas bawah diturunkan, ratusan telik sandi disebar untuk mencari kabar, bahkan ki Agil setiorogo (Kepala pengawal khusus), Ki sapta kencana (Kepala telik sandi) dan juga Menteri Hakan Yuki pun turun langsung ke lapangan. Hal ini tentu saja membuat kekosongan yang cukup besar pada keamanan di dalam istana Gigantara, ternyata keadaan ini mulai disadari oleh penasehat kerajaan Gigantara ki Raskapadena, namun sayangnya hal ini sudah sangat terlambat. Karena saat ini di depan halaman istana telah ramai oleh kunjungan ratusan orang berbaju hitam dan memakai topeng. Terlihat dari kekompakkan, langkah yang mantap dan bentuk barisan yang sangat rapih, menunjukkan bahwa mereka bukanlah rombongan orang sembarangan yang dapat diremehkan.

Walaupun secara kuantitas jumlah mereka belum memadai jumlah pengawal istana yang masih tersisa sekarang, tetapi kualitas pengawal yang tersisa sangatlah jauh dari baik, sebab pemimpin mereka ki Agil setiorogo, Ki sapta kencana dan juga Menteri Hakan Yuki sedang dinas keluar. Secara ilmu kanuragan yang tersisa hanya ada ki Jorang wukutenu yang sedang cidera, walaupun sudah mulai mebaik tetapi tentu saja tidak bisa diandalkan 100% menghadapi kejadian saat ini.

Tidak beberapa lama maka terjadilah pertempuran di depan istana kerajaan Gigantara, dan tidak memakai tempo yang lama terlihat pasukan kerajaan yang tanpa pemimpin terdesak menuju ambang kekalahan, beberapa pentolan dari pihak penyerang mulai masuk ke dalam istana.

Menyaksikan suasana yang sepertinya mulai sukar untuk dikendalikan segera saja ki Raskapadena berlari menuju ke tempat raja dan ratu menunggu kabar. Sejak awal mereka sudah mendengar adanya keributan, namun disarankan oleh sang penasehat untuk tetap disana menunggu kabar darinya.

Walaupun keadaan sangat mengkhawatirkan namun ketika berkata ki Raskapadena tidaklah menampakkan sedikit pun kekhawatiran namun tetap terlihat sedikit kesedihan pada wajahnya,

"Di luar keadaan sedang tidak baik Baginda, rupanya ini semua merupakan taktik musuh yang mencerai beraikan kekuatan kerajaan kita, karena beberapa saat sebelum adanya pertempuran di depan hamba menerima kabar bahwa pasukan yang mencari pangeran Naufal yang terbagi menjadi tiga kelompok semuanya dihadang musuh. Musuh sudah merencanakan dengan matang penyerangan ini, hamba sebagai pemikir dari kerajaan ini ternyata tidak becus untuk segera melihat semua kejanggalan sehingga mengakibatkan lancarnya rencana musuh. Yang kita punya saat ini hanya ki Jorang wukutenu dan dua pengawal khusus saja, tetapi ki Jorang wukutenu mungkin sudah turun pula ke medan pertempuran. Namun mengingat baginda berdua mempunyai ilmu kanuragan yang cukup tinggi, tentu kalau untuk menyingkir sementara hamba rasa sangat mudah. Biarlah keadaan di sini hambamu yang tidak becus ini yang akan berjuang hingga titik darah terakhir." kata ki Raskapadena melaporkan keadaan sekaligus memberikan pendapatnya.

"Apa paman? Kau suruh kami kabur sebelum merasakan sakitnya tusukan golok dan pedang mereka? Apakah paman sangka kami orang yang pengecut?" ujar sang raja dengan sedikit emosi.

"Ampun baginda, bukan hamba meragukan keberanian paduka. Tetapi bila melihat kejadian demi kejadian saat ini rupanya ucapan pertapa tua yang pernah hamba ceritakan hampir semuanya mendekati kebenaran. Bila hamba tidak salah tangkap sesungguhnya kejadian ini bisa dikatakan pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat kita, walaupun hingga saat ini belum terlihat wajah sang pemimpin dari mereka. Bila melihat penampilan mereka yang serba misterius namun rata-rata memiliki ilmu kanuragan yang tergolong kelas satu dalam dunia persilatan, tentu pemimpin mereka setidaknya orang yang terkenal mungkin di dunia persilatan ataupun bisa jadi tokoh dari kerajaan lain. Oleh karena itu, mohon kiranya paduka mendengarkan nasehat hamba yang terakhir kalinya. Jangan sampai mati konyol, karena masih ada tugas untuk menyelidiki siapa pelaku dan mengumpulkan panglima-panglima kita yang handal yang sedang dinas di luar istana sehingga masih memungkinkan bagi baginda ketika akan membalas perbuatan mereka ini." Ki Raskapadena memohon kepada Raja Ranggapati.

"Nasehat paman sangat berarti bagiku, maaf bila aku tadi sedikit kasar. Dinda ayo segera bersiap seadanya, kita cari kakang Hakan Yuki dan kumpulkan semua punggawa kita yang sedang mencari ananda Satria selanjutnya kita kembali kesini untuk menghancurkan mereka."  Ajak sang raja kepada ratu Zaskia.

"Silahkan baginda dan ratu lewat pintu rahasia, kedua pengawal sudah menyiapkan semua kebutuhan. Segala ucapan sudah ku titipkan kepada mereka. Semoga baginda selamat di jalan." salam perpisahan diucapkan sang penasehat dengan wajah sedih.

"Baiklah, sebisa mungkin paman mengulur waktu hingga bantuan datang. Aku pamit dulu paman." pamit sang raja.

Lalu bersama ratu zaskia ia masuk ke jalan rahasia, yang selama ini hanya orang-orang yang benar-benar menjadi kepercayaan raja saja yang mengetahui jalan ini. Dan tentu saja tidak ada halangan yang menghadang mereka. Namun, perjalanan mereka tidak untuk mencari para punggawa kerajaan lain yang tercecer, karena ketika menerima kabar dari telik sandi dari luar telah diwartakan kalau pasukan pencari sang pangeran semuanya tercerai berai dihajar musuh. Sehingga menurut pemikiran penasehat tentu saja tidak dapat diharapkan bantuan dari mereka. Sehingga ia menitipkan pesan untuk keselamatan raja dan ratu, maka dengan sangat terpaksa dua pengawal tersebut memberikan obat pemabuk pada makanan dan minuman raja dan ratu, selanjutnya mereka membawa junjungannya dengan kereta ke arah timur tujuannya adalah Gunung Semeru, sesuai petunjuk dari sang penasehat sebelumnya.

 Belum sampai sepenanakan nasi mereka menempuh perjalanan di depan terlihat ada rombongan kecil berkuda dari arah depan, ketika jarak mereka sudah tidak jauh lagi terdengar teguran dari arah rombongan kecil itu,

"hei, Suketi siapa yang kau bawa dengan kereta itu? Keadaan sedang gawat mengapa kau justru tidak menjaga di samping junjungan kita raja dan ratu Gigantara?" tanya salah seorang dari rombongan tadi yang rupanya adalah Menteri Pertahanan dari kerajaan Gigantara yaitu Hakan Yuki, dimana dalam rombongannya terdapat pula Ki sapta kencana, salah seorang anggota pasukan khusus dan sisanya adalah pengawal biasa jumlah rombongan mereka ada 15 orang. Rupanya kabar kehancuran pasukan pencari pangeran Naufal benarlah adanya.

Melihat siapa yang menegurnya tentu saja salah satu pengawal khusus yang mengendarai kereta tadi yang bernama Suketi sangat girang, di dalam pikirannya terbebaslah beban dipundak mereka ber 2 saat ini. Ya tentu saja beban itu dapat dialihkan ke pundak Menteri Hakan Yuki. Maka jawabnya pada Hakan Yuki,

"Beruntung sekali kita dapat bertemu di sini paduka Hakan, Ki sapta kencana, dan juga kakang Surya. Aku bersama Kakang Jampang sedang mengawal sri baginda beserta sang ratu menuju ke timur sesuai pesan dari Ki Raskapadena" Selanjutnya Suketi menceritakan kejadian di istana Gigantara, sampai pada pesanan dari Ki Raskapadena untuk menyelamatkan junjungan mereka.

"Kurang ajar, rupanya semua ini sudah direncanakan dengan matang oleh pihak musuh. Kakang Hakan silahkan kakang mengawal junjungan sampai tempat tujuan mengikuti rencana Ki Raskapadena, biarlah aku yang melihat-lihat keadaan di istana" ucap Ki sapta kencana.

Hakan Yuki terlihat berpikir sejenak, selanjutnya ia berkata,

"Kau ajaklah Adi Surya bersamamu, bila ada kejadian penting kau bisa menyuruhnya untuk memberi kabar. Kita berhubungan dengan cara yang biasanya.

"Okelah kalau begitu...kami pamit sekarang kang" jawab Ki sapta kencana seraya mengajak salah satu pengawal khusus yang bernama Surya pergi.

Dan setelah keberadaan Mentri Hakan Yuki maka raja dan ratu disadarkan, selanjutnya Hakan Yuki menceritakan keadaan kerajaan yang sangat kritis, dan meminta kepada raja dan ratu untuk sementara mengungsi sambil memikirkan langkah yang terbaik untuk ke depannya. Pada awalnya raja masih mengkhawatirkan keadaan istana dan hendak kembali untuk bertempur hingga penghabisan, namun setelah berunding beberapa lama, maka mereka bersepakat untuk mencari tempat aman sambil menunggu kabar dari Ki sapta kencana, selanjutnya melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana dari penasehat Ki Raskapadena semula, karena untuk saat ini hanya jalan ini yang terasa sangat baik bagi keamanan sang raja dan ratu.

Pada hari ketujuh ketika mereka sampai di kaki gunung Semeru, datanglah kabar dari Ki sapta kencana lewat burung pembawa berita, disampaikan bahwa Kerajaan Gigantara saat ini dikuasai oleh menteri bagian keuangan (Danu Wasesa) yang rupanya biang keladi pemberontak yang dibantu oleh Jorang wukutenu. Prajurit-prajurit yang semula mereka tangkap kini sudah menjadi seperti setia kepada mereka, karena banyak dari mereka terpaksa setia karena keluarga mereka disandera oleh pemberontak, banyak pembesar yang setia dibantai tanpa ampun. Sedangkan sebagian dari pasukan misterius yang menyerang sudah diketahui sedikit jati diri mereka, yaitu sebagian merupakan dedengkot dunia hitam antara lain adalah Iblis Muka Hitam, Betina racun, dan ada juga Si Pengadil Neraka. Dan berita yang cukup mengejutkan adalah bahwa Jorang wukutenu sesungguhnya penyamaran dari seorang iblis tua yaitu Dedengkot Iblis dari Neraka, seorang buronan rimba persilatan sejak puluhan tahun yang lalu karena kasus pembantaian pada banyak tokoh persilatan, iblis tua ini sangat pintar menyamar sehingga sampai saat ini masih hidup damai bahkan sudah 3 tahun ini justru menjadi tokoh istana. Selain itu dikabarkan pula bahwa penasehat Ki Raskapadena telah mereka penjarakan, dikarenakan tidak mau menakluk kepada mereka namun dikarenakan sewaktu-waktu mungkin masih akan berubah pikiran sehingga hanya dipenjarakan sementara tanpa mengalami siksaan dan ancaman apapun, karena sejak dulu Ki Raskapadena tidak punya sanak keluarga, karena asalnya ia perantauan dan belum pernah menikah.

Kabar tersebut tentu saja sangat mengejukan rombongan itu, namun kini paling tidak mereka sudah tahu siapa musuh mereka. Kalau musuh sebagian besar adalah tokoh sesat, tentu saja jalan keluar yang cukup realistis adalah mencari bantuan dari pihak para pendekar dan perguruan silat yang tergolong aliran putih. Namun, hal ini menurut Hakan Yuki dapat ditangguhkan sementara. Saat ini yang sangat perlu adalah mengamankan raja dan ratu, karena tentu saja pihak pemberontak tidak akan tenang sebelum raja dan ratu dapat mereka tangkap bahkan mereka binasakan. Oleh karena itu, perjalanan pun segera dilanjutkan.

Belum lama mereka beranjak tiba-tiba terdengar bunyi suara harpa yang melantunkan irama sangat menyedihkan, semakin lama semakin mendayu mempengaruhi jiwa seakan-akan mengajak mereka untuk menangis. Beberapa prajurit bahkan sudah terlihat raut wajah mereka mulai mewek-mewek mau nangis, namun tiba-tiba sang raja seperti teringat sesuatu lalu berkata,

"Suara harpa ini...Mungkinkan seperti cerita dari paman Raskapadena, harpa yang dimainkan oleh pertapa tua?"

Setelah kata-kata raja ranggapati terucap tiba-tiba suara lantunan harpa pun terhenti, sunyi senyap hingga beberapa lama. Hingga akhirnya sang raja berkata untuk pergi ke arah bunyi harpa tadi. Lalu beranjaklah mereka semua ke arah bunyi harpa tersebut. Tidak seberapa jauh mereka melangkah terlihatlah di depan sebuah bangunan seperti tempat ibadah, dari luar terlihat bahwa bangunan mirip kuil tersebut sangatlah terang benderang. Suasana di sekitarnya pun sangat sunyi, di depan pintu kuil terlihat seorang pertapa separuh baya sepertinya memang menunggu kedatangan mereka semua.

Ketika sampai di depan pertapa tersebut Hakan Yuki pun menyapa, "Mohon maaf bila kami semua mengganggu ketenangan bapak pertapa, kami semua berjalan dari jauh hendak mencari tempat berteduh, mohon kiranya bapak pertapa dapat memberi petunjuk."

Dengan sedikit tersenyum sang pertapa itu menjawab, "Sudah sedari tadi Guruku menunggu kehadiran Baginda beserta rombongan, silahkan ikuti hamba ke ruangan dalam."

"Oh...marii." Kali ini sang Raja sendiri yang menjawab. Selanjutnya mereka semua pun masuk ke dalam mengikuti pertapa tadi.

Sabtu, 04 Agustus 2012

BAB II Terselamatkan?


Kerajaan Gigantara sore itu gempar mendengar berita yang dibawa oleh Ki Jorang wukutenu, Ki Jorang dengan muka babak belur, pakaian robek sana sini membopong mayat kyai Brogo serta membawa warta yang mengejutkan atas penyerangan yang terjadi di hutan Guama.

Dari cerita Ki Jorang mereka diserang dua orang bertopeng yang sangat tinggi sekali ilmu kanuragannya. Sehingga Kyai brogo beserta dua orang pengawal khusus dihajar hingga tewas, seorang pengawal khusus berusaha menyelamatkan pangeran dan putri namun hingga kini belum ketahuan rimbanya. Sedangkan iapun terpaksa melarikan diri dari pertempuran karena melihat pangeran dan putri sudah berhasil melarikan diri.

Tapi ternyata putri savira dan pangeran naufal kedapatan belum kembali. Ketidakpulangan mereka itulah yang membuat kebimbangan dari hampir seluruh penghuni istana kerajaan Gigantara. Tim investigasi pun langsung diperintahkan turun ke TKP, melakukan penelusuran dan penyelidikan.

Raja Ranggapati memerintahkan sebagian besar pengawal elite kerajaan untuk segera mencari keberadaan putra-putrinya. Tujuh orang dari pengawal elite didampingi Ki Jorang beserta 100 prajurit biasa dikerahkan untuk menelusuri hutan Guama.

Selanjutnya Sang raja pun memanggil penasehat Kerajaan yaitu Raskapadena. Sang raja meminta pendapat dari sang penasehat, yang selama ini banyak membantu memikirkan masalah yang ada di kerajaan Gigantara baik besar maupun kecil.

"Bagaimana menurut paman Raskapadena mengenai kejadian penyerangan terhadap putra-putri ku di hutam Guama?" ucap sang Raja.

"Kalau berdasarkan keterangan dari Ki jorang wukutenu, menurut hamba sepertinya ada pihak tertentu yang memang sengaja menimbulkan kekacauan di kerajaan kita ini baginda raja." ucap sang penasehat.

"Lalu menurut paman kira-kira pihak mana yang memungkinkan untuk melakukan kekacauan ini?" lanjut sang Raja.

"Terlalu sulit untuk dikatakan siapa dan darimana. Karena sudah beberapa lama ini di semua daerah tidak pernah terdengar kejadian yang luar biasa, tidak pernah terdengar kerusuhan yang besar, dan juga tidak pernah ada terdengar terbentuknya kelompok atau perkumpulan dengan ambisi yang bakal membuat adanya ketidaktentraman." ucap Raskapadena.

"Bila melihat keadaan kerajaan selama ini baik rakyat jelata, para petani, pedagang, prajurit, serta segenap isi kerajaan ini sepertinya tidak pernah ada keluhan kecewa mengenai kebijaksanaan Yang Mulia selama ini. Bahkan hampir di setiap pelosok di kerajaan kita ini selalu membanggakan nama Yang mulia Raja Ranggapati, sebagai seorang pemimpin yang benar-benar mengerti aspirasi rakyatnya, jujur dan juga berwibawa." lanjut Raskapadena.

Tiba-tiba seperti teringat sesuatu, dengan ekspresi wajah tersirat rasa kekhawatiran sang penasehat berkata, "Yang Mulia, tiba-tiba hamba teringat kejadian pada awal tahun ini. Dimana ketika hamba sedang berada di rumah peristirahatan di sekitar Sungai Pandan Wangi, pada waktu itu hari masih sangatlah pagi. Suasana cerah dan juga udara sangat sejuk, tetapi tiba-tiba hamba mendengar suara harpa yang bernadakan kesedihan yang sangat mendalam." berkata sang penasehat.

"Karena penasaran hamba segera mendatangi ke arah sumber suara harpa tersebut, disana hamba mendapati seorang pertapa tua yang memainkan harpa dan pandangannya jauh ke langit dengan raut wajah dirundung kesedihan yang mendalam." cerita sang penasehat.

"Pada saat itu hambamu berpikir mengapa disaat yang sangat indah seperti ini, pertapa tua itu justru melantunkan harpa dengan irama yang menyedihkan. Karena penasaran lalu hamba menegur pertapa tersebut. Hamba bertanya kepadanya apa yang menjadi beban pikiran pertapa itu sehingga ia seperti sedang dalam kesedihan" lanjut sang penasehat.

Mendengar pertanyaan dari penasehat kerajaan itu pertapa tua itu lalu menghentikan permainan harpanya. Ketika melihat yang bertanya kepadanya adalah seorang yang berpakaian seperti bangsawan, sang pertapa lalu tersenyum diwajahnya tidak lagi mengisyaratkan bahwa ia baru saja melantunkan sebuah lagu penuh kesedihan. Semakin memandang ke arah pertapa sang penasehat merasa bahwa pertapa tersebut adalah seorang yang kharismatik, sehingga tanpa sadar timbul rada hormat di hati penasehat itu.

Pertapa tua itu lalu berucap, "Kalau hamba tidak salah mengenali tuanku ini tentulah penasehat Raskapadena dari kerajaan Gigantara yang sejahtera. Mohon maaf sekali jika lantunan harpa orang tua ini sangat mengganggu ketenangan Tuan"

Mendengar ucapan sungkan dari sang pertapa tadi membuat Raskapadena itu menjadi serba salah. Entah mengapa melihat sorot mata dari sang pertapa itu membuat Raskapadena merasa justru dirinyalah yang menjadi kaum hamba. Dari aura wajah sang pertapa itu terpancar kewibawaan dan juga welas asih.

Dengan sedikit terbata penasehat pun menjawab, "Eh..maaf Guru, eh..Eyang Resi. Diri ini cuma sedikit heran, tidak biasanya sepagi ini mendengar lantunan irama yang sangat sedih, sehingga menimbulkan penasaran untuk mendatangi kemari."

"Hmmm....Nyanyian sedih di waktu mentari baru saja bersinar terang dan udara pagi masih sesejuk ini. Sangat tidak tepat, sungguh kejadiaan yang sangat tidak tepat. Tetapi kejadian hari ini mungkin tidak beberapa lama lagi akan tuanku saksikan kembali." ucap sang pertapa tua sambil berlalu meninggalkan penasehat Raskapadena.

Sang penasehat tersebut hanya terpaku melihat langkah kepergian pertapa tua tersebut. tapi ia masih mendengar kembali ucapan dari pertapa itu.

"Pada saat terlihat badai tidak dapat diredakan, berjalanlah segera menggapai ke arah mentari. Dua jalur tetapi satu sumber harusnya bisa menyatu, mengapa justru harus terpecah belah. Takdir..mungkin semua adalah takdir dari Nya." Ucapan pertapa itu masih terdengar di telinga tetapi sosoknya sudah pergi entah kemana.

"Dan setelah itu hamba seperti baru tersadar dari mimpi di siang bolong, ketika hamba mencari-cari pertapa tua tersebut hambamu tidak menemukan siapapun disana." Cerita sang penasehat kepada Raja Ranggapati.

Mendengar cerita barusan Raja Ranggapati seperti mendapat firasat yang tidak mengenakkan.

"Kalau mengikuti ucapan pertapa tersebut sepertinya bakal terjadi sesuatu yang sangat tidak mengenakan pada kerajaan ini" Ucap sang Raja.

"Hambamu tidak berani memastikan hal itu Yang Mulia, semoga hal yang terbaik yang akan terjadi. Selama ini kehidupan rakyat kita sudah cukup makmur sejahtera, sangat disayangkan bila terjadi hal-hal yang tidak baik pada kerajaan ini yang nantinya bisa berimbas juga pada kehidupan rakyat kita" kata penasehat Raskapadena.

"Ya semoga saja tidak terjadi apa-apa, dan anak-anakku bisa segera ditemukan.  Tolong paman temui kakang Hakan Yuki, dan ajak ia untuk mengurus masalah yang ada saat ini. Aku akan ke dalam menenangkan adinda Zaskia dahulu."  Ujar sang raja.

"Baik Yang Mulia" ucap Raskapadena sambil pamit memohon diri.

Selanjutnya marilah kita ikuti perjalanan dari putri savira.

Setelah melancarkan serangan dengan senjata rahasia sesosok bayangan berkelebat dengan kecepatan tinggi meraih tubuh putri savira dan membawanya pergi keluar dari hutan Guama. Setelah merasa aman dan jauh dari hutan Guama bayangan tersebut lalu berhenti dan menurunkan tubuh putri Savira untuk diperiksa.

"Sungguh kejam" Tiba-tiba orang itu yang rupanya seorang wanita usia pertengahan berucap.

"Untuk menghadapi bocah sekecil inipun bedebah itu harus melancarkan serangan dengan tenaga yang mematikan. Tampaknya orang itu berniat membunuh bocah perempuan ini" pikir wanita itu.

"Untung aku Dewi Angin masih sempat menolongnya, kalau tidak mungkin sudah ko'it ne bocah perempuan. Sayang sekali bila bocah secantik ini harus mati muda, apalagi bila menilik wajahnya sepertinya bocah ini juga berasal dari negeri dewata tempatku berasal." pikir wanita yang rupanya adalah Dewi Angin yang merupakan tokoh yang sangat terkenal dengan ilmu meringankan tubuh dan juga senjata jarum rahasia.

Dengan segera ia melakukan penyembuhan dengan cara menyalurkan tenaga dalamnya kepada sang putri. Setelah sepeminuman teh berlalu terlihat sang putri mulai tersadar dari pingsannya, lalu Dewi Angin pun menyodorkan obat penyembuh luka dalam miliknya.

"Makan obat ini segera" ujar Dewi Angin.

Sejenak putri Savira terkaget, namun otaknya segera berpikir cepat. "Rupanya wanita ini adalah orang yang menyelamatkan dirinya. Tanpa banyak tanya langsung saja ia menelan obat yang disodorkan kepadanya."

Beberapa saat setelah meminum obat tadi dirasakan badannya kembali normal, ada hawa sejuk yang dirasakan didalam badannya.

"Terima kasih atas pertolongan yang telah diberikan kepadaku Nyi" ucap sang Putri.

"Aku secara kebetulan saja sedang lewat dan cuma iseng menyelamatkanmu." kata Dewi Angin dengan nada yang sok cuek.

"Siapa nama mu bocah cantik?" tanya Dewi Angin.

"Namaku Savira, Nyi" jawab putri Savira.

"Walau aku cuma iseng, tapi sepertinya kita ada jodoh. Dan aku tertarik menjadikanmu menjadi muridku, apakah kau mau menjadi murid Dewi Angin bocah cantik?" tanya Dewi Angin kepada putri Savira.

"Dewi Angin..Inikan tokoh yang sedang tenar dengan ilmu meringankan tubuhnya yang seperti melebihi kecepatan angin yang sering diceritakan guru-gurunya. Wah mau banget ni jadi muridnya, biar bisa belajar ilmu melesat seperti angin" Pikir sang Putri.

"Sebenarnya murid sangat ingin menjadikan Dewi sebagai guru, tetapi kebetulan murimu ini masih mempunyai orang tua yang menjadi raja dan ratu di kerajaan Gigantara. Sehingga tentu saja masih harus memohon izin dari mereka terlebih dahulu." Ucap sang putri.

"Wow anak raja cuy..wah kalah keren ne gw agaknya" Terlintas sedikit rasa kaget dalam pikiran Dewi Angin. Sebenarnya ia sudah menebak bahwa bocah perempuan yang sudah tidak bocah lagi itu adalah seorang keturunan bangsawan, tetapi ia tidak menyangka kalo ne bocah putri raja.

"Gimana ne Berani gx yaa.....Minta izin sama bonyoknya" pikir Dewi Angin sok centil.

"Hmmmm...asal kamu bocah sudah setuju, walaupun dewa pun akan ku samperin untuk mintakan izin kepada mereka. Nanti kita cari penginapan sementara untukmu beristirahat, sedangkan aku akan langsung menemui kedua orangtuamu di kerajaan Gigantara" Ucap Dewi Angin sok yakin n sok berani.

"Baiklah kalau begitu guru, terimalah hormat dari muridmu ini guru" Ucap Savira seraya memberikan penghormatan kepada sang Guru.

"Murid pintar." Puji Dewi Angin.

"Baiklah mari kita cari tempat untuk beristirahat dahulu." Lanjut Dewi Angin.

"Mari Guru." Ajak Savira.

"Yuk...marii.." ucap sang guru dalam hati.

Mari sementara kita tinggalkan putri Savira yang sudah diselamatkan oleh gurunya yang sok galak tapi centil, kita beralih kepada pangeran kecil.

Setelah terpental dan kemudian dengan susah payah membawa lari pangeran kecil, pengawal tersebut langsung mengerahkan seluruh kemampuannya untuk kabur secepat mungkin. Mungkin karena terburu-buru itulah maka ia tidak sempat melihat arah kaburnya. Ia justru kabur masuk ke bagian yang paling dalam dari hutan tersebut, beruntung ketika manusia bertopeng itu hendak mengejar ia telah dihalangi oleh dua pengawal yang lain, namun dengan 2 kali babatan saja dua pengawal tersebut sudah mati bersimbah darah.

Namun waktu yang sekejap itu ternyata tidak disia-siakan oleh pengawal yang membopong pangeran kecil, karena sebenarnya para pengawal khusus bentukan istana tersebut terdiri dari 12 orang yang merupakan pesilat tangguh yang dapat digolongkan ke tingkat pesilat utama yang pilih tanding. Walaupun sudah menderita luka dalam yang tidak ringan tetapi masih mampu untuk menghindar sementara dari kejaran manusia bertopeng tersebut.

Ketika pelarian mereka sudah hampir keluar dari hutan di jalan yang lain, pengawal itu mendapati seorang lelaki yang berjalan dari arah depan menuju ke arah mereka. Untuk sejenak timbul rasa khawatir di hati pengawal tersebut, "Musuhkah orang ini?" pikirnya.

Setelah dia berada dekat dengan orang tersebut ternyata lelaki tersebut adalah orang yang ia kenal, Rakai Juanda Ketua Padepokan Jati Agung, "Kemungkinan mereka bisa tertolong." pikirnya dengan hati sedikit lega.

"Hei Ki Rakai Juanda, untung bisa bertemu kamu di sini cepat kamu tolong pangeran pergi dari sini. Selanjutnya hidup mati pangeran naufal adalah tanggung jawabmu. Aku tidak sempat menjelaskan lagi, ada musuh tangguh dibelakang yang mengejar aku. Kesaktiannya tidak mampu dilawan walaupun kita berdua mengeroyoknya. Cepat bawa pergi pangeran dari sini, aku yang akan menghalangi sementara pengejar itu." ucap pengawal tersebut yang rupanya kenalan Ki Rakai Juanda.

"Alit Anggaspati, sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa kamu sepertinya terluka dalam, dan siapa yang mengejar kalian?" tanya Ki Rakai Juanda kepada pengawal yang rupanya adalah Alit Anggaspati sahabatnya ketika masa muda dahulu.

"Jangan banyak tanya, semua kejadian yang kau ketahui hari ini wajib kau selidiki sendiri nantinya, sekarang sudah tidak ada waktu lagi. Kalau kau masih mau ku anggap sahabatku, tolong segera kau bawa pangeran pergi dari sini. Cepat!!" bentak Alit Anggaspati.

 "Baiklah..Aku pergi, jaga dirimu baik-baik." Ucap Ki Rakai Juanda seraya membopong pangeran naufal yang rupanya sudah ditotok oleh sahabatnya tersebut.

Sepeninggal Ki Rakai Juanda, pengawal tersebut berbalik ke arah semula, ia berpikir untuk sebisa mungkin menghalangi pengejar bertopeng tadi. Namun tentu saja nyawanya tidak dapat terselamatkan, karena itu ketika rombongan dari istana yang melakukan pencarian hanya menemukan tubuhnya sudah tidak bernyawa di pintu keluar hutan Guama.

Berhasilkah Ki Rakai Juanda menyelamatkan pangeran kecil?

JEJAK SANG PENDEKAR

BAB I Manusia bertopeng



Di siang yang terik di hutan Guama terlihat lima ekor kuda mengiringi sebuah kereta mewah, penunggang kuda dibagian depan  adalah seorang yang berbadan besar dengan muka mempunyai cabang lebat terlihat sebuah tombak melintang di punggungnya, orang  ini bernama Jorang wukutenu. Dia adalah salah seorang guru silat dari kerajaan Gigantara. Di sebelah Jorang wukutenu juga  adalah salah seorang guru silat kerajaan yang berpenampilan layaknya ulama bersorban dia adalah Kyai brogo.
Mereka berdua bersama 3 orang prajurit khusus pengawal istana sedang mengawal pangeran naufal dan putri savira untuk berburu  di hutan Guama seperti biasanya.

Berburu rusa adalah kegemaran raja Ranggapati yang rupanya menurun pada sang putri Savira yang tahun ini sudah menginjak usia  yang ke 17. Sedangkan sang pangeran baru berusia 7 tahun, walaupun tidak terlalu menyukai berburu rusa tetapi ia tidak pernah  telat untuk menemani sang kakak untuk berburu. Ketika sang kakak kegirangan karena berhasil memanah 3 ekor rusa, sang adik  hanya tersenyum seperti layaknya orang tua yang geli melihat anaknya bisa merangkak pertama kali. Sang putri memang seorang  yang bertipe periang dan mudah bergaul dengan siapapun termasuk para bawahannya, sedangkan naufal adalah seorang yang tidak  terlalu banyak bicara pada semua orang, orang yang paling sering diajaknya berbicara adalah sang kakak dan ibunya ratu Zaskia.

Semua berjalan seperti biasanya sampai ketika mereka sedang beristirahat sebelum pulang kembali ke istana, mulailah tampak  sesuatu yang tidak biasa. Ada 2 orang berpakaian serba hitam dan bertopeng yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Mereka berdua muncul  dengan pedang terhunus.

Sang guru silat Jorang wukutenu membentak " Hei siapa kalian dan mau apa kalian menghunus pedang di depan Jorang wukutenu?"
"Apakah kalian berdua sudah punya nyawa seribu?" bentaknya dengan keras.

Sedangkan Kyai brogo berkata perlahan kepada Jorang wukutenu, " Hati-hati ki, kedatangan mereka begitu tiba-tiba dan tidak  dapat kurasakan, tentu kepandaian mereka tidak bisa diremehkan." Selanjutnya ia berkata kepada para pengawal untuk menjaga  pangeran dan putri.

Ki jorang yang memang berwatak sedikit berangasan tidak menggubris omongan Ki brogo lalu melompat dengan tombak diacungkan  kepada dua orang misterius tersebut. "Apa kalian berdua orang tuli sehingga tidak mendengar pertanyaanku?" Bentaknya lagi.

"Kami tidak tuli, mungkin sebentar lagi telingamu yang tidak bisa mendengar lagi karena akan ku tebas dengan pedang ini" Jawab salah satu orang bertopeng dengan gaya yang santai.

"Manusia laknat, punya kemampuan apa sehingga bacot loe bisa segitu besarnya?" bentak ki jorang.

"Kalau soal kemampuan bisa diliat nanti ketika semua rombongan ini akan bermandikan darah oleh pedangku ini. Tenang saja kami akan memuaskan keinginanmu untuk menyaksikan semua kemampuan kami, sampai akhirnya engkaulah yang akan menjadi tumbal yang terakhir dari pedangku ini". Ucap salah satu orang bertopeng yang rupanya sebagai juru bicara dan juga pimpinan diantara mereka berdua.

Pada saat ki jorang sedang berdiskusi 'akrab' dengan dua orang misterius itu, sang putri mendekati Kyai brogo. "Siapa mereka berdua paman? Sebelumnya hutan ini kan aman-aman saja, dan juga posisi hutan ini tidak terlalu jauh dari area patroli pengawal kerajaan kita" Ucap sang putri kepada Ki brogo.

"Entahlah putri, tapi sepertinya mereka cuma perampok biasa yang nyasar kemari. Ki Jorang pasti mampu membereskan mereka. Putri disini saja bersama pangeran dan para pengawal. Paman akan membantu Ki jorang." Ucap kyai brogo meyakinkan sambil mencoba menyingkirkan kekhawatiran di hatinya sendiri.

Sedangkan di depan sana rupanya kesabaran Ki jorang sudah habis, terlihat ia sudah menghantam dengan jurus tombak menghalau domba. Jurus tombak yang sebenarnya tidak terlalu menakutkan tetapi menjadi serangan yang cukup berbahaya karena Ki jorang menyalurkan lima bagian tenaganya pada serangannya yang pertama ini.

Tetapi ternyata serangannya itu hanya dianggap angin lalu oleh kedua orang bertopeng itu, ketika serangan tombak sepertinya akan segera sampai ke tubuh orang bertopeng yang tadi berbicara tiba-tiba ia bergeser sedikit sambil melakukan tendangan ke arah bokong ki jorang, yang mengakibatkan ki jorang terpental kebelakang sejauh 3 langkah.

"bajingan keparat, kubunuh kau." Teriak ki Jorang setelah bangun lalu menusuk dengan jurus Petaka halilintar yang merupakan salah satu jurus kebanggaan Ki Jorang.

Melihat Ki jorang sudah merangsak dengan ganas salah satu manusia bertopeng tadi, kyai Brogo lalu menghampiri manusia bertopeng yang satunya.
Ia berkata "Apa maksud kalian yang sepertinya sengaja mencari perkara dengan rombongan dari Kerajaan Gigantara? Apakah kalian berharap merampok kami? Kalau kamu merasa jantan silahkan buka topengmu"

Terdengar tawa yang sangat sinis dari manusia bertopeng tadi, "Aku tidak ingin harta, yang ku inginkan adalah nyawa kalian semua" Ucapnya dingin.

Kyai Brojo sedikit heran dengan kejadian ini, sepertinya mereka memang tidak menghendaki harta. Tetapi seingat dia pihak kerajaan beberapa waktu ini aman tentram, dan selama ini tidak mempunyai musuh dari dalam ataupun luar kerajaan. Berita di dunia persilatan juga tidak terlalu ada yang mengkhawatirkan, walaupun gerakan golongan hitam tetap ada tetapi masih bisa diredam oleh para pihak pendekar dari golongan lurus. 

Kejadian yang tiba-tiba ini sangat mengherankan, apalagi dilihatnya dari sikap santai, kehadiran mereka yang sangat tiba-tiba dan juga Ki jorang yang mampu dibuat jatuh bangun oleh manusia bertopeng yang satunya. Padahal kepandaian Ki jorang sudah cukup tinggi, di kerajaan Gigantara sendiri mungkin hanya 3 orang yang mampu mengimbangi kemampuannya. Sedangkan kemampuan dirinya sendiri tidak berbeda jauh dengan Ki jorang. Semakin membuat Kyai brogo tambah khawatir akan keselamatan junjungan yang sedang dikawalnya. Apalagi ketika dilihat kembali pada pertarungan Ki jorang yang sepertinya sudah berakhir karena saat ini Ki jorang terduduk kaku di sana, sepertinya dia sudah ditotok. Sepertinya pertarungan tadi belum lebih dari 15 jurus ternyata Ki jorang sudah berhasil ditotok oleh lawannya. Sungguh hal itu membuat kyai brogo semakin was-was.

Pada awalnya kyai Brogo berinisiatif untuk mengulur waktu, sampai ada regu pengawal yang berpatroli ke daerah hutan ini. Tetapi ternyata hanya beberapa jurus saja Ki Jorang sudah keok. Terpaksa ia lalu bersiap menyerang lawannya yang satu ini, daripada dikeroyok dua orang lebih baik coba-coba dulu dengan lawan yang satu ini, pikirnya. Tanpa memberi peringatan lagi kyai brogo langsung mengeluarkan pukulan samber nyawa yang merupakan sebuah jurusan pukulan tinju yang saling susul menyusul dan juga salah satu andalan kyai brogo.

Tetapi ternyata dengan gerakan yang sulit diikuti oleh mata kyai brogo, lawannya tiba-tiba menghilang entah kemana. Selanjutnya terdengar teguran dari belakangnya, "Sudah tua tetapi masih juga belajar memukul angin."

Ternyata manusia bertopeng tersebut sudah ada dibelakangnya. Langsung saja kyai brogo menghantam kembali dengan pukulan samber nyawa yang disusuli dengan pukulan guntur membelah langit yang merupakan jurus yang selama ini sangat jarang ia keluarkan sejak ia turun gunung dari padepokan Panca Langit lima belas tahun yang lalu.
Tetapi ternyata tetap tidak menghasilkan apapun, lagi-lagi si lawan menghilang dan kali ini berada kembali di belakang kyai brogo bahkan berada cuma dua langkah di belakangnya. 

Kyai brogo terhenyak, dia mempunyai gelar kyai bukan saja karena dia seorang yang menyebarkan agama Islam, tetapi juga secara keilmusilatan pada 18 tahun yang lalu dia adalah lulusan dari padepokan Panca Langit dengan predikat Cumlaude. Dia adalah lulusan terbaik pada angkatannya, tetapi ternyata bisa dipermainkan oleh seorang misterius yang kalau dilihat dari suaranya adalah seseorang yang masih sangat muda, paling tidak lebih muda daripada dirinya karena pada saat ini walaupun ia belum tergolong ABG atau Angkatan Babe Gue, tapi paling tidak dia sudah masuk ke dalam daftar AOG atau Angkatan Oom Gue karena sudah memasuki usia yang ke 42 tahun.

Semenjak 18 tahun yang lalu merantau di dunia persilatan hingga saat ini belum pernah dia melihat ilmu meringankan tubuh sehebat ini, bahkan bila mengingat kemampuan sang gurunya Kyai Moksa Abimanyu sepertinya belum mampu menghindar kebelakang tanpa dia tahu bagaimana cara musuh bergerak. Sepertinya dia mencari guru yang kurang tepat atau manusia bertopeng ini yang mempunyai guru yang terlalu hebat. Entahlah, yang jelas ia semakin bingung. Bingung dan khawatir akan nasib pangeran dan putri yang ada di sana.

"Hei kamu, kalau berani jangan maen menghilang begitu. Coba kamu sambut pukulan Guntur ku." Teriak Kyai brogo sedikit kesal.

"Baiklah kalau kamu sudah merasa cukup lama hidup di dunia ini, aku kabulkan kehendakmu. Silahkan keluarkan pukulan Kentut mu itu." Jawab orang bertopeng yang jelas-jelas bikin kyai brogo semakin marah.

"Kurang ajar, rasakan pukulanku." Seru kyai brogo sambil mengeluarkan pukulan gunturnya dengan sepenuh tenaga. Pukulan guntur membelah langit adalah sebuah jurus yang sifatnya meledakkan tenaga dalam ketika berbenturan dengan apapun. Apapun benda yang terkena pukulan ini akan hancur, resiko paling ringan terkena pukulan ini adalah kulit melepuh selama kulit itu tidak diobati. Tentu saja kyai Brogo sangat senang ketika musuhnya berani menerima serangannya tanpa mengelak lagi, sehingga dia bisa menunjukkan kemampuannya lewat pukulan gunturnya. 

Tetapi kali ini kyai Brogo salah perhitungan, dia tidak tahu kalau manusia bertopeng tersebut sudah sangat jelas mengenai kemampuan dirinya. Sangat mengerti efek dan kehebatan jurus Guntur membelah langit miliknya. Selain itu juga kyai Brogo tidak tahu bahwa manusia bertopeng tersebut memiliki ilmu Hawa Siluman Penyedot Raga. Ilmu yang sangat sulit untuk dipelajari dan sudah ratusan tahun tidak terdengar ada orang yang mampu menggunakan ilmu ini.

Manusia bertopeng tersebut menerima pukulan dengan dadanya, ketika kyai brogo menyangka dada orang tersebut akan hancur justru yang terjadi sungguh membuatnya kaget. Ketika tangannya sudah berada sangat dekat dengan dada manusia bertopeng tersebut terasa seperti ada sebuah tenaga yang justru menyedot tangannya ke arah dada lawan. Sedangkan efek dari pukulan gunturnya terhadap tubuh lawan tidak ada sama sekali, sedangkan tenaga dalamnya mengalir keluar tanpa bisa dikendalikan. Pada saat itulah dia sadar bahwa orang ini memiliki ilmu Hawa Siluman Penyedot Raga. Kecemasan terlihat diraut wajahnya, dengan mengerahkan sisa tenaga yang masih ada pada dirinya ia pun berteriak "Pengawal bawa pangeran dan putri pergi dari sini, cepat!"

Tiga orang pengawal tersebut yang sejak tadi menonton pertempuran itu tentu saja sudah sangat mengerti keadaan di sana. Tanpa menunggu tempo lagi salah satu dari mereka menggendong sang pangeran sedangkan sang putri naik kuda sendirian dan langsung mereka berusaha kabur. 

Tetapi tentu saja hal ini tidak dibiarkan oleh manusia bertopeng yang sedang menganggur. Dia menghantam dengan pukulan jarak jauh ke arah pengawal yang menggendong pangeran kecil, hantaman itu terkena telak sehingga pengawal tersebut terjatuh dari kuda bersama pangeran kecil tersebut. Beruntung tenaga dalam pengawal tersebut tergolong kelas satu, walaupun harus muntah darah sedikit dia masih mampu bangun dan melarikan diri menggendong sang pangeran yang terlempar didekatnya. Baginya keselamatan pangeran dan putri lebih penting, dengan menahan sakit di badan dia langsung saja melarikan diri.

Sedangkan sang putri sepertinya akan selamat, seandainya komplotan itu hanya dua orang saja, tetapi sayangnya ternyata begitu sang putri telah melarikan kudanya ada sosok manusia bertopeng yang lain yang langsung berkelebat mengikuti arah kepergiannya.
Sepertinya kejadian ini sudah benar-benar direncanakan mereka secara matang, walaupun putri savira sudah membedal duluan kudanya tetapi dari kemampuan dua manusia bertopeng yang lain sepertinya pelarian putri savira tidak akan berhasil. Dan memang tidak jauh dari ujung jalan keluar hutan itu ternyata sang putri sudah dihadang oleh manusia bertopeng juga.

Karena tahu bahaya yang sangat besar, begitu turun dari kuda sang putri langsung menyerang dengan sebuah pukulan. Tetapi dengan tertawa manusia bertopeng tersebut menyambut pukulan tersebut dengan keras lawan keras, yang mengakibatkan sang putri terpental jauh ke belakang.

Pada saat itulah terdengar suara lirih seperti sabitan senjata rahasia ke arah manusia bertopeng. Walaupun sedikit kaget tetapi dia masih sanggup untuk mengelak serangan itu, tetapi baru saja berhasil mengelak ternyata ada serangan senjata rahasia lain yang menyusul. Tentu saja serangan ini masih dapat dihindari olehnya, tetapi lumayan membuatnya kerepotan karena kecepatan si pelempar termasuk sangat hebat sehingga dapat membuatnya sedikit kerepotan.

Setelah berhasil menghindar kembali dia langsung menyerang ke arah rimbunan semak di depannya, karena asal senjata rahasia tersebut adalah dari semak di depannya.
Tetapi ketika seluruh semak didepannya hancur berantakan tidak tampak sedikitpun bayangan manusia yang menangkis atau menghindar dari pukulannya. Dari kejadian ini dia langsung tahu bahwa orang yang membokongnya bukan orang yang bisa diremehkan.

Dengan geram dia membentak, "Siapapun dirimu silahkan tunjukkan batang hidungmu kehadapanku. Jangan hanya berani membokong saja."

Tetapi setelah ditunggu lama tiada jawaban dan gerakan, karena sadar ada yang tidak beres lalu ia kembali melihat ke tempat putri tadi tergeletak. Dan ternyata sudah tidak ada lagi bayangan sang putri. "Kurang ajar" umpatnya ketika sadar ia telah kecolongan. Selanjutnya ia langsung berkelebat ke arah kedua temannya tadi bertempur.

Siapakah sesungguhnya yang menyerang manusia bertopeng tadi dengan senjata rahasia?

Lalu kemanakah perginya putri savira?

Selamatkah pangeran naufal dari kekejaman para manusia bertopeng tadi?

Rabu, 27 Agustus 2008

GoD_Army

Tulisan pertama ditulis dengan penuh kepercayaan diri, dengan semua curahan perasaan dan pikiran, dengan segenap kemampuan tangan ini tuk menuliskan beberapa kalimat, dengan diiringi dengus napas yang bersemangat dan menggelora. Maka, terlahirlah beberapa kaliamat yang sangat tidak berguna ini.

Sekian